Jumat, 31 Agustus 2012

Biografi Abu Fida': Sultan yang Ahli Sejarah

Abu Fida’ adalah seorang pangeran Suriah yang mahir sejarah dan geografi. Ia lahir pada bulan November 1273 di Damaskus. Nama lengkapnya adalah Ismail bin al-Afdal Ali bin al-Muzaffar Mahmud bin al-Mansur Muhammad bin Taki ad-Din Umar bin Syahansyah bin Ayyub al-Malik al-Mu’ayyad Imaduddin Abu al-Fida’. Ia adalah putra Malikul Afdal, saudara dari pangeran Hammah, yang kembali ke Damaskus setelah kepergiannya ke Mongol. Ia juga cucu keluarga Ayyub, ayah Saladin (Sultan Shalahudin al-Ayyubi).

Sebagai pangeran Suriah, Abu Fida’ telah dipersiapkan menjadi pemimpin sejak kecil. Pada usia 12 tahun, Abu Fida’ ikut bergabung dalam rombongan ayah dan saudara sepupunya, al-Muzaffar Mahmud II, yang akan menyerbu benteng St. John dalam peristiwa Perang Salib di Tripoli. Pada tahun 1310, ia diangkat menjadi Gubernur Hammah. Dua tahun kemudian, posisinya dinaikkan menjadi pangeran. Ia diberi gelar Malik ash-Shalih. Pada tahun 1319-1320, ia berangkat ke Mekkah untuk menunaikan ibadah haji bersama Sultan Muhammad. Pada tanggal 28 Februari 1320 (17 Muharram 720 H), dalam perjalanannya kembali ke Kairo, ia diberi lencana kesultanan dan dianugerahi gelar al-Malik al-Mu’ayyad.

Selama kurang lebih 21 tahun, Abu Fida’ menjalankan tugasnya sebagai pemimpin rakyat. Meskipun begitu, ia masih sempat membaca dan menulis di sela-sela waktu luang. Ia menulis sejumlah karya sejarah dan menyempurnakan karya-karya pendahulunya. Salah satu karya penting yang dihasilkan Abu Fida’ adalah sebuah karya gubahan berjudul al-Hawi, yang berasal dari karya al-Mawardi. Selain itu, ia juga menghasilkan dua karya yang berjudul Mukhtasar Tarikh al-Basar dan Takwim al-Buldan, yang kemudian melambungkan namanya. Keduanya merupakan karya kompilasi besar dan disempurnakan di kemudian hari.
Biografi Abu Fida': Sultan yang Ahli Sejarah
Mukhtasar Tarikh al-Basar adalah sebuah buku sejarah dunia yang mencakup periode pra Islam dan Islam (sebelum tahun 1329). Buku yang diterbitkan di Istambul ini menjadi salah satu sumber acuan bagi para ilmuwan Barat abad XVIII. Sementara itu, Takwim al-Buldan adalah sebuah buku geografi yang dilengkapi data-data dalam bentuk tabel matematika dan fisika.

Karya geografi Abu Fida’ lainnya yang juga terkenal adalah Introduction General ala Geographis des Orintaux. Para ilmuwan Barat memuji karya ini sebagai tulisan yang mengagumkan. Abu Fida’ pun diberi gelar The Greatest Geographer of His Age. Di kemudian hari, sebagian besar karya Abu Fida’ diterjemahkan dalam bahasa Perancis dan tersimpan rapi di perpustakaan Paris.

Abu Fida’ meninggal dunia pada tahun 1327.

Sumber: Buku Biografi Para Ilmuwan Muslim
selengkapnya...

Minggu, 26 Agustus 2012

Biografi Ibnu Sina: Bapak Kedokteran

Di Barat, Ibnu Sina lebih dikenal dengan nama Avicenna. Ia lahir pada tahun 980 di Afghanistan. Pelajaran pertama yang diterimanya adalah pelajaran tentang al-Quran dan sastra, yang diberikan secara privat. Selain itu, ia juga mempelajari ilmu agama, seperti tafsir, fikih, dan tasawuf. Disebabkan kecerdasannya yang luar biasa, Ibnu Sina berhasil menguasai semua ilmu itu ketika umurnya masih sangat belia, yaitu 10 tahun. Setelah itu, Ibnu Sina melanjutkan pendidikannya dengan belajar ilmu hukum, logika, matematika, politik, fisika, kedokteran, dan filsafat. Ibnu Sina dikenal sebagai seorang otodidak yang amat tekun dan cerdas. Konon, ia menguasai ilmu kedokteran dalam waktu satu setengah tahun tanpa bimbingan seorang guru.

Menginjak usia 17 tahun, Ibnu Sina berhasil menangani penyakit khalifah Nuh bin Manshur. Oleh karena itu, ia memperoleh izin untuk belajar di perpustakaan pribadi sang khalifah. Di perpustakaan tersebut, ia berkesempatan mendalami ilmunya. Ia mempelajari semua koleksi buku yang ada di tempat itu. Pada usia 18 tahun, Ibnu Sina telah menguasai seluruh cabang ilmu pengetahuan yang ada pada masanya.

Setelah kematian ayahnya, Ibnu Sina memutuskan untuk meninggalkan Bukhara menuju Jurjan. Dari Jurjan, ia terus mengembara hingga tiba di Khwarazm, sebelum kemudian sampai ke Mamadzan. Selama dalam perjalanan panjang itu, pemikiran filsafat Ibnu Sina semakin bertambah matang. Pada suatu waktu, ia berhasil membangun pemikiran filsafatnya sendiri sebagai suatu sistem yang lengkap dan terperinci.

Pada masa itu, Ibnu Sina menghasilkan sebuah karya besar yang berjudul Qanun fi al-Thibb (Canon of Medicine). Buku ini dianggap sebagai “buku suci” ilmu kedokteran dan dijadikan buku pegangan para mahasiswa kedokteran Eropa. Buku yang disebut sebagai ensiklopedi kedokteran ini telah menguasai dunia ilmu pengobatan Eropa selama kurang lebih 500 tahun. Qanun fi al-Thibb bahkan sudah diterjemahkan dalam berbagai bahasa, seperti Ibrani, Latin, Perancis, Spanyol, Itali, dan sebagainya. Sejak zaman Dinasti Han di Cina, buku ini menjadi buku standar kedokteran Cina. Teori anatomi dan fisiologi yang tertulis di dalamnya telah mendasari sebagaian besar analogi manusia terhadap negara. Qanun fi al-Thibb atau Canon of Medicine juga pernah diterbitkan di Roma (1593) dan di India (1323). Salah satu pernyataan dalam buku ini yang menjadi dasar bagi sejumlah teori kedokteran adalah bahwa darah mengalir secara terus-menerus dalam suatu lingkaran dan tidak akan pernah berhenti.
Biografi Ibnu Sina: Bapak Kedokteran
Ibnu Sina juga menulis sebuah buku tentang penyakit saraf (neurasthenia). Buku tersebut membahas sejumlah metode pembedahan yang menegaskan perlunya luka dibersihkan (disifection) agar steril. Proses ini dsebut sterilisasi.

Selain dikenal sebagai seorang filosof dan dokter, Ibnu Sina adalah seorang menteri pula. Ia memegang jabatan tersebut pada masa pemerintahan Syamsuddaulah di Hamadzan. Namun, di sela-sela semua kesibukannya, Ibnu Sina terus menghasilkan karya. Pada masa itu, ia menulis sebuah karya filsafat monumentalnya yang berjudul asy-Syifa. Di dalam buku ini, Ibnu Sina mengulas berbagai macam ilmu, seperti logika, fisika, matematika, dan metafisika ketuhanan, secara mendalam. Di kemudian hari, buku ini diterbitkan di Roma (1593) dan di Mesir (1331). Adapun bagian khusus metafisika dan fisika pernah dicetak dalam cetakan batu di Teheran. Sementara itu, pasal keenam dari bagian fisika, yang merupakan landasan pembentukan psikologi modern, diterbitkan oleh Lembaga Keilmuwan Cekoslovakia di Praha, sebelum kemudian diterjemahkan dalam bahasa Perancis. Pada tahun 1951, pemerintah Mesir dan Arab membentuk panitia penyunting asy-Syifa di Kairo.

Keaslian pemikiran Ibnu Sina mengundang kekaguman para ahli Barat dan Timur. Buku terakhir karya Ibnu Sina yang paling baik menurut para filosof dunia adalah al-Isyarat wat-Tanbihat. Pada tahun 1892, buku ini diterbitkan di Leiden. Terakhir, al-Isyarat wat-Tanbihat diterbitkan di Kairo pada tahun 1947.

Di tengah semua kesibukannya itu, Ibnu Sina tiba-tiba jatuh sakit. Ia wafat pada tahun 1037 (428 H) di Hamadzan. Pada tahun 1955, Ibnu Sina dinobatkan sebagai Father of Doctors (Bapak Kedokteran). Sebuah monumen pun dibangun untuknya. Peristiwa tersebut terjadi dalam rangka memperingati 1.000 tahun kelahiran Ibnu Sina (Fair Millenium) di Teheran.

Sumber: Buku Biografi Para Ilmuwan Muslim
selengkapnya...

Sabtu, 25 Agustus 2012

Biografi Al-Mas'udi: Sejarawan dan Pengembara Muslim

Al-Mas’udi dikenal sebagai sejarawan dan ahli geografi Arab. Ia dilahirkan di Baghdad, Irak, pada akhir abad XIX. Nama lengkapnya adalah Abu al-Hasan Ali bin Husein Ibnu Ali Mas’udi. Setelah menyelesaikan pendidikan dasarnya, al-Mas’udi tertarik mempelajari sejarah dan adat-istiadat masyarakat suatu tempat. Hal inilah yang mendorongnya untuk mengembara dari satu negeri ke negeri lain, mulai dari Persia, Istakhr, Multan, Manura, Ceylon, Madagaskar, Oman, Caspia, Tiberias, Damaskus, Mesir, dan berakhir di Suriah. Dalam pengembaraannya, al-Mas’udi mempelajari ajaran Kristen dan Yahudi, serta sejarah negara-negara Barat dan Timur.

Kitab Akhbar az-Zaman adalah salah satu karya al-Mas’udi yang terdiri dari tiga puluh jilid. Buku ini berisi uraian sejarah dunia. Karya lainnya adalah Kitab al-Ausat, yang berisi kronologi sejarah umum. Pada tahun 947, kedua karya tersebut digabungkan menjadi satu dalam sebuah buku yang berjudul Muruj adz-Dzahab wa Ma’adin atau Meadows of Gold and Mines of Precious Stones (Padang Rumput Emas dan Tambang Batu Mulia). Pada tahun 956, karya ini direvisi kembali dan diberikan sejumlah tambahan oleh penulisnya.

Muruj adz-Dzahab wa Ma’adin dianggap sebagai buku yang memberikan dasar-dasar teori evolusi. Dengan pertimbangan tersebut, buku ini diterbitkan kembali di Kairo (1866) dan diterjemahkan dalam bahasa Perancis oleh C.B. de Maynard dan P. de Courteille. Hasil terjemahan itu kemudian dibagi menjadi sembilan jilid dan dicetak di Paris (1861-1877). Buku jilid pertama sempat diterjemahkan dalam bahasa Inggris oleh A. Sprenger dan dicetak di London.
Biografi Al-Mas'udi: Sejarawan dan Pengembara Muslim
Selain Muruj adz-Dzahab wa Ma’adin, karya al-Mas’udi lainnya adalah Kitab at-Tanbih wa al-Isyraf (Book of Indication and Revision), yaitu sebuah buku yang berisi ringkasan koreksi terhadap tulisannya yang lain. Buku ini juga memaparkan garis besar pandangan filsafat al-Mas’udi tentang alam dan sejumlah pemikiran evolusinya. Di kemudian hari, buku ini diedit oleh M.J. de Geoje, sebelum kemudian diterjemahkan dalam bahasa Perancis oleh Carra de Vaux pada tahun 1896.

Al-Mas’udi meninggal dunia pada tahun 956.

Sumber: Buku Biografi Para Ilmuwan Muslim
selengkapnya...

Biografi Al-Khazini: Pencetus Barometer

Al-Khazini adalah seorang ahli fisika dan matematika yang berasal dari Khurasan. Ia adalah anak didik Abu al-Fadh Ibnu al-Amid, seorang menteri dari Rukn ad-Dawl yang berkuasa pada masa pemerintahan Dinasti Buwaihi di Rayy, Iran. Nama lengkap al-Khazin adalah Abu Ja’far Muhammad bin Muhammad bin al-Husayn al-Khurasani al-Khazin.

Salah satu obyek penelitian al-Khazin adalah gumpalan udara. Ia berpendapat bahwa udara mempunyai kekuatan yang dapat mendorong serupa aliran air. Ketika berada di bumi, massa suatu benda yang melayang di udara akan berkurang. Kesimpulannya, massa benda sangat tergantung pada suhu udara. Itulah hasil analisis al-Khazin yang kemudian mengilhami pembuatan barometer.

Setelah Newton menemukan Teori Gravitasi Bumi, pemikiran tentang suhu udara yang dikemukakan oleh al-Khazin memiliki peran yang sangat berarti. Teori kepadatan suhu udara ternyata sesuai dengan teori gravitasi bumi. Teori ini erat kaitannya dengan gumpalan-gumpalan yang ada pada setiap lapisan udara.

Al-Khazin juga melakukan berbagai penelitian tentang benda-benda terapung dan massa benda, baik padat, cair, maupun yang bervariasi. Di kemudian hari, penelitian al-Khazin itu ternyata sangat mendukung sejumlah teori dalam ilmu pengetahuan modern. Penemuan al-Khazin lainnya adalah alat pengukur berat benda di udara dan air. Konon, al-Khazin membuat lima model alat semacam ini. Salah satunya berbentuk neraca yang dilengkapi alat barometer untuk mengukur tingkat kepadatan. Ketika kepadatan udara dihubungkan dengan suhu panas maka pengukuran yang dilakukan juga terkait dengan suhu panas. Pemikiran ini kemudian mengilhami Galileo untuk membuat termometer.
Biografi Al-Khazini: Pencetus Barometer
Atas jasa-jasanya, al-Khazin dianggap sebagai penemu tekanan dan ukuran suhu panas, sebelum kemudian dikembangkan oleh Torriceli dan Galileo. Al-Khazin juga melakukan penelitian tentang gravitasi. Ia menguraikan banyak hal tentang kekuatan gravitasi dalam bukunya yang berjudul Mizanul Hikmah. Selain membahas gravitasi, Mizanul Hikmah juga membahas materi hidrostatika. Beberapa pasal dari buku ini telah diterjemahkan dan diterbitkan di Amerika Serikat. Al-Khazin juga melakukan penelitian untuk menentukan pusat massa benda dan menjelaskan cara pemakaian sejumlah alat sederhana, seperti timbangan. Sehubungan dengan itu, ia juga dikatakan sebagai seorang penemu berbagai macam timbangan.

Al-Khazin dianggap sebagai ilmuwan yang telah memberikan sumbangan besar bagi pembuatan barometer dan termometer, yang dikerjakan oleh para ilmuwan Barat. Selain itu, di kalangan ilmuwan Arab, al-Khazin juga dikenal sebagai ilmuwan yang telah membuat alat ukur hidrostatika. Selain menemukan alat ukur dan membuat teori baru, al-Khazin juga menemukan sebuah rumus untuk mengetahui permukaan sebuah segitiga sebagai fungsi sisinya. Dengan menggunakan bagian-bagian kerucut, ia berhasil memecahkan bentuk persamaan x3 + a2b = cx2 atau persamaan Mahani. Bentuk persamaan ini merupakan sebuah soal yang diajukan oleh Archimedes dalam bukunya The Sphere and The Cylinder.

Selain menulis buku ilmu ukur, al-Khazin juga menulis buku penanggalan. Al-Madkahl al-Kabir ila ‘ilm an-Nujum adalah sebuah karya al-Khazin yang membahas hari pertama pada bulan Muharam. Pada karyanya yang lain, al-Khazin mencoba menjelaskan makna tanggal Jewish Passover pada tahun penyaliban Yesus dengan memberikan bukti-bukti yang akurat. Pada tanggal ini, orang-orang Yahudi melakukan suatu festival keagamaan untuk memperingati pembebasan kaum mereka dari belenggu perbudakan di Mesir.

Al-Khazin meninggal dunia pada tahun 971 (360 H).

Sumber: Buku Biografi Para Ilmuwan Muslim
selengkapnya...

Kamis, 23 Agustus 2012

Biografi Jabir Ibnu Hayyan: Bapak Kimia Islam

Jabir Ibnu Hayyan adalah salah satu ilmuwan yang dianggap paling pantas menyandang gelar ahli kimia Arab pada masa awal perkembangannya.

Abu Abdullah Jabir bin Hayyan al-Kufi as-Sufi adalah nama lengkap Jabir Ibnu Hayyan. Ia lahir pada tahun 721 dan dibesarkan dalam keluarga dokter. Ada pendapat yang menyatakan bahwa Jabir adalah keturunan Yunani yang memeluk agama Islam.

Sejak kecil, Ibnu Hayyan sudah akrab dengan dunia empiris dan medis. Ia berhasil mengklasifikasikan beragam benda berdasarkan unsur kimia yang menyusunnya. Pengklasifikasian itu terbagi tiga, yaitu tubuh, nyawa, dan akal. Jabir memasukkan unsur emas (Au) dan perak (Ag) dalam kategori tubuh, sedangkan sulfur (S) dan arsenik (As) dalam kategori nyawa. Sementara itu, merkuri (Hg) dan sal amoniak (batu bara dan sari minyak) dimasukkannya dalam kategori akal.

Buku dan kumpulan tulisan Ibnu Hayyan terbagi dalam beberapa kelompok penting. Pertama, buku yang berisi sejumlah esai tentang praktek alkemi yang sistemnya merujuk pada alkemi kuno. Kedua, buku yang berisi uraian tentang pengajaran alkemi. Ketiga, buku yang mengenal kesetimbangan. Sebuah uraian tentang landasan teori, atau filosofi alkemi, dan ilmu gaib. Ibnu Hayyan telah menulis sekitar 306 buah buku kimia, yang kemudian diterjemahkan dalam berbagai bahasa dan disimpan di perpustakaan di seluruh dunia.

Nama Ibnu Hayyan dikenal sebagai ahli kimia setelah ia mempresentasikan sejumlah metode riset kimia hasil penemuannya. Ia pun dianggap sebagai perintis empirisme dan metodologi ilmiah. Ia mampu mengemukakan pandangan-pandangannya tentang teori pembentukan geologis, hasil campuran bermacam logam. Ia juga telah mempelajari dan mendalami proses pembuatan karbonat dan senyawa-senyawa sulfida dan arsen. Selain itu, Ibnu Hayyan juga sering melakukan usaha pemurnian logam, cat warna kain, kulit, dan sebagainya.

Demi menunjang aktifitasnya sebagai ilmuwan, Ibnu Hayyan mendirikan sebuah laboratorium. Di tempat ini, ia melakukan sejumlah percobaan, seperti sublimasi, penyaringan, kristalisasi, dan sebagainya. Menurut Ibnu Hayyan, percobaan adalah aspek paling penting dalam kimia. Jika seseorang tidak dapat meletakkan dasar pengetahuan melalui percobaan maka kemungkinan besar ia akan melakukan kesalahan. Ia juga berkata bahwa sebuah teori kimia tidak dapat diakui kebenarannya jika hanya didasarkan pada apa yang telah dibaca, tapi terlebih dulu harus diuji dan dibuktikan kebenarannya melalui serangkaian percobaan dan penelitian.
Biografi Jabir Ibnu Hayyan: Bapak Kimia Islam
Selain menulis esai, Ibnu Hayyan juga menulis literatur. Jumlah literatur karyanya sangat banyak dan mewakili hampir semua bidang ilmu pengetahuan yang ada pada masa itu hingga akhir abad VII. Dari sejumlah fakta yang ada, diketahui bahwa kumpulan tulisan tersebut dibuat pada akhir abad IX dan awal abad X.

Atas jasa dan karyanya di bidang kimia, Jabir Ibnu Hayyan mendapat gelar Bapak Kimia Islam Pertama. Ia tidak hanya terkenal di negeri kelahirannya, tapi juga di wilayah lain, seperti Eropa. Di sana, ia lebih dikenal dengan nama Geber. Ibnu Hayyan adalah ilmuwan pertama yang menggunakan metode ilmiah dalam aktivitasnya di bidang alkemi, yang kemudian dikembangkan menjadi ilmu kimia seperti yang dikenal sekarang. Jabir Ibnu Hayyan juga dikenal sebagai orang pertama yang mendirikan laboratorium dan menggunakan tungku sebagai tempat mengolah mineral, mengekstraksi zat-zat, sebelum kemudian mengklasifikasikannya.

Di laboratoriumnya, Ibnu Hayyan melakukan sejumlah penelitian dan percobaan dengan ketekunan yang luar biasa. Ketekunan tersebut tidak sia-sia karena ia akhirnya berhasil menemukan beberapa senyawa kimia baru, seperti karbida (carbida acid). Lewat percobaan dan penelitiannya, Ibnu Hayyan juga menyumbangkan beberapa teori tentang penguapan, pembutiran, pelelehan, persenyawaan, dan sublimasi. Beberapa percobaan Jabir masih sering digunakan untuk mengklasifikasi unsur kimia, terutama pada bahan logam dan non logam.

Ibnu Hayyan juga menulis sejumlah risalah, terutama yang berkaitan dengan ilmu kimia. Lewat risalahnya, ia memperkenalkan model penelitian baru yang kemudian menjadi titik awal perkembangan ilmu kimia modern. Pada abad pertengahan, risalah Ibnu Hayyan yang berjudul Kitab al-Kimya dan Kitab al-Sab’een diterjemahkan dalam bahasa Latin. Kemudian hari, terjemahan bahasa Latin Kitab al-Kimya diterbitkan kembali oleh seorang Inggris, bernama Robert Chester dengan judul The Book of the Composition of Alchemy (1444). Sementara itu, Kitab al-Sab’een diterjemahkan kembali oleh Gerard dari Cremona. Sebuah buku karya Ibnu Hayyan juga sempat diterjemahkan oleh Berthelot dengan judul Book of Kingdom, Book of the Balances and Book of Eastern Mercury. Pada tahun 1678, seorang penerjemah asal Inggris yang bernama Richard Russel menerjemahkan karya Jabir yang lain dengan judul Sum of Perfection. Di kemudian hari Sum of Perfection menjadi buku terpopuler di Eropa selama beberapa abad. Buku ini memberi pengaruh besar pada proses evolusi ilmu kimia modern.

Jabir Ibnu Hayyan wafat pada tahun 815 di Kufah.

Sumber: Buku Biografi Para Ilmuwan Muslim
selengkapnya...

Rabu, 22 Agustus 2012

Biografi Ibnu Irak: Ahli Matematika dan Astronomi Muslim

Nama lengkap Ibnu Irak adalah Abu Nasr Mansur bin Ali Ibnu Irak. Ia dikenal sebagai seorang ahli matematika yang tekemuka pada tahun 1000. Ia berasal dari keluarga Ibnu Irak yang pernah memerintah al-Khawarazam, sebelum kemudian ditaklukan oleh Mahmud dari Ghazna. Latar belakang keluarganya yang cukup terhormat dan berada membuatnya bisa bersekolah dengan baik.

Sejak kecil, Ibnu Irak sudah menunjukkan ketertarikan pada ilmu hitung dan perbintangan. Ketika menginjak usia remaja, ia gemar membaca beberapa naskah ilmuwan Yunani, terutama Euclides. Ia bahkan mencoba memecahkan beberapa soal yang belum terselesaikan para ilmuwan sebelumnya. Minatnya terhadap benda luar angkasa pun sangat besar. Setelah menyelesaikan pendidikan dasar dan pelajaran agama, Ibnu Irak mencurahkan seluruh kemampuannya untuk memperdalam ilmu matematika dan astronomi. Didukung kecerdasannya, ia berhasil membuat sejumlah prestasi di bidang tersebut.

Pada abad pertengahan, beberapa kajiannya menjadi bahan perbincangan para sarjana Eropa. Selain itu, sekitar lima belas karyanya yang membahas tentang matematika dan astronomi telah diterbitkan. Umumnya, karyanya tersebut berisi pembahasan berbagai macam persoalan yang terdapat dalam Zidjes (Sets of Astronomical Tables), pembahasan fungsi trigonometri khusus (Jadwal ad-Daka’ik), dan beberapa penyelesaian untuk mengatasi kesulitan saat memahami karya Euclides, Elements. Di kemudian hari, Jadwal ad-Daka’ik menjadi bahan rujukan dalam bidang matematika, astronomi, dan geografi. Para ahli menganggap karya tersebut bermutu tinggi, meskipun sekilas hampir mirip dengan karya sejenis yang ditulis oleh para astronom dan ilmuwan lain.
Biografi Ibnu Irak: Ahli Matematika dan Astronomi Muslim
Selain tekun meneliti benda-benda langit dan mengkaji matematika, Ibnu Irak juga membagikan ilmunya pada sejumlah murid. Pada masa itu, Ibnu Irak mempunyai banyak pengikut, salah satunya adalah al-Biruni. Ibnu Irak juga dikenal karena hasil revisinya terhadap karya berjudul Spherics, yang kemudian disempurnakannya kembali pada tahun 1007-1008.

Dalam karya al-Biruni yang berjudul Treatise on Chords, Ibnu Irak disebut sebagai penemu beberapa persamaan matematika, sedangkan dalam buku karya al-Biruni lainnya, Cronology of Ancient Nation, Ibnu Irak dipuji karena telah menemukan sebuah metode baru untuk menentukan apogee matahari dari tiga titik yang selalu berubah-ubah pada ekliptika (orbit di mana matahari kelihatan bergerak). Apogee adalah titik terjauh dari bumi dalam peredaran satelit. Selain al-Biruni, sejumlah ilmuwan matematika lain juga memuji karya Ibnu Irak yang menguraikan tentang trigonometri. Ibnu Irak dianggap sebagai ahli pengembangan fungsi sinus, kosinus, dan tangent.

Ibnu Irak menulis riwayat hidupnya dalam buku berjudul al-Amir dan Mawla Amir al-Mu’mini.

Sumber: Buku Biografi Para Ilmuwan Muslim
selengkapnya...

Senin, 20 Agustus 2012

Biografi Zakariyya Ar-Razi: Perintis Kedokteran Islam

Ar-Razi dilahirkan pada tahun 846 di Rayy, dekat Teheran, Iran. Nama lengkapnya adalah Abu Bakar Muhammad bin Zakariyya ar-Razi. Di Barat, ia dikenal dengan sebutan Razhes. Ia juga sering dijuluki sebagai Galen-nya Arab. Galen adalah seorang dokter dan filosof Yunani yang sangat terkenal. Sejak kecil, ar-Razi telah menunjukkan minat yang besar terhadap ilmu pengetahuan.

Di bidang medis, ar-Razi mencurahkan segenap pikirannya untuk mendiagnosa penyakit cacar. Dalam salah satu karyanya, ar-Razi memberikan sebuah informasi yang amat menarik perhatian para peneliti, yaitu tentang small-pox (penyakit cacar). Sehubungan dengan itu, ia pun dianggap sebagai dokter pertama yang meneliti penyakit tersebut. Ar-Razi membedakan penyakit cacar menjadi cacar air (variola) dan cacar merah (rougella).

Ar-Razi juga menulis sejumlah karya. Salah satunya adalah aj-Judari wa al-Hasbah (Cacar dan Campak), yang kemudian diterjemahkan dalam bahasa Inggris oleh J. Ruska dan diterbitkan dengan judul ar-Razi's Buch: Geheimnis der Gehemnisse. Sejak tahun 1498-1866, aj-Judari wa al-Hasbah versi bahasa Inggris telah dicetak sebanyak empat puluh kali. Buku inilah yang memberikan pengetahuan tentang seluk-beluk penyakit cacar kepada para dokter Eropa.

Selain memperkenalkan penyakit cacar, ar-Razi juga melakukan pengobatan khas dengan pemanasan syaraf dan menganggap penting pengobatan penyakit kepala pening. Lagi-lagi, ia adalah dokter pertama yang melakukan kedua hal tersebut. Selain itu, ia juga diduga sebagai dokter pertama yang mendiagnosa penyakit tekanan darah tinggi.

Ar-Razi mengungkapkan tentang kai, yaitu pengobatan serupa akupuntur. Ia memanfaatkan pengetahuannya tentang titik-titik penting pada tubuh manusia untuk pengobatan. Caranya, ia menusuk titik tersebut dengan sebatang besi yang pipih dan runcing, yang sebelumnya telah dipanaskan dengan minyak mawar atau minyak cendana. Selain itu, ar-Razi memaparkan pula tentang beberapa macam luka, penggunaan kayu pengapit dan penyangga (spalk) untuk keperluan patah tulang, serta injeksi erethal (saluran kencing dan sperma). Lebih jauh lagi, ia menguraikan tentang jenis sakit perut yang disebutnya batr (potong) dan fatg (koyak). Ia juga menulis buku mengenai penyakit anak-anak.
Biografi Zakariyya Ar-Razi: Perintis Kedokteran Islam
Selama hidupnya, ar-Razi telah mengarang sekitar dua ratus buku ilmiah. Salah satu di antaranya adalah al-Hawi (Buku Menyeluruh) yang terdiri dari dua puluh jilid. Al-Hawi pun dianggap sebagai karya terbesar ar-Razi. Buku ini juga dianggap sebagai intisari ilmu Yunani, Syiria, dan Arab. Kurang lebih setengah abad setelah kematiannya, buku terjebut baru ditemukan dua jilid, sebelum akhirnya ditemukan lagi beberapa jilid. Karya ar-Razi tersebut tersimpan di berbagai tempat di Eropa.

Keunggulan karya ar-Razi membuat kalangan istana kekristenan Eropa menaruh perhatian besar. Keberadaan buku tersebut dirasakan penting bagi para tabib yang ditugaskan untuk menjaga kesehatan raja. Setelah peristiwa Perang Salib, raja-raja di Eropa memerintahkan agar semua karya ar-Razi diterjemahkan dalam bahasa Latin, yang merupakan bahasa resmi ilmu pengetahuan Eropa pada masa itu.

Buku karya ar-Razi lainnya adalah ensiklopedi kedokteran yang terdiri dari sepuluh jilid. Jilid kesembilan buku itu diterbitkan bersama al-Qanun fith-Thibb karya Ibnu Sina. Hingga abad XVI, buku tersebut masih dijadikan pegangan dasar mahasiswa kedokteran di sejumlah universitas Eropa. Lewat buku tersebut, orang Eropa mulai mengetahui kebesaran dan keagungan nama ar-Razi, seorang dokter muslim.

Selain karya di atas, ar-Razi juga menghasilkan beberapa karya, seperti al-Thibbur Ruhani (Pengobatan Rohani), Sirrul Asrar (Rahasia Segala Rahasia), Nafis fi Hisbah wal Jadari (Pengobatan Campak dan Cacar), dan Man la Yahdhuruhuth (Pengobatan Alternatif Ketika Tidak Ada Dokter). Sirrul Asrar adalah sebuah buku yang berisi sejumlah percobaan kimia yang pernah dilakukan ar-Razi, sedangkan Man la Yadhuruhuth adalah sebuah buku pengobatan bagi orang-orang miskin. Dalam buku tersebut, ar-Razi menyarankan jenis pengobatan alternatif, yaitu pengobatan dengan memakai obat-obatan yang berasal dari alam. Setiap tulisan ar-Razi adalah hasil rangkuman sejumlah teori kedokteran yang telah dicoba keabsahan dan kebenarannya lewat eksperimen.

Selain menulis buku, ar-Razi juga menciptakan berbagai jenis obat. Ia juga berhasil menemukan cara membuat alkohol. Di kemudian hari, penemuan tersebut ditindaklanjuti oleh Arnol Pilinov. Pada abad XIII, alkohol menjadi populer.

Memasuki usia senja, ar-Razi terserang penyakit katarak. Akibatnya, kedua matanya buta. Ketika beberapa teman menganjurkannya untuk mengobati penyakit tersebut, konon ar-Razi menjawab: "Tidak, aku sudah demikian lama melihat seluruh dunia ini sehingga aku lelah karenanya." Ar-Razi wafat pada tahun 925 di kota kelahirannya. Pengabdian dan kejeniusan ar-Razi diakui dunia Barat hingga kini. Ia pun disebut sebagai tokoh perintis ilmu kedokteran terbesar dari dunia Islam.

Sumber: Buku Biografi Para Ilmuwan Muslim
selengkapnya...

Minggu, 19 Agustus 2012

Biografi Ahmed Zewail: Muslim Pertama Peraih Nobel Kimia

Dr. Ahmed Hassan Zewail ialah seorang tokoh pakar sains Mesir yang telah memenangkan Hadiah Nobel 1999 dalam bidang kimia. Dr. Zewail merupakan ilmuwan muslim kedua setelah Prof. Abdus Salam dari Pakistan yang menerima penghargaan tersebut karena jasanya menemukan femtokimia, studi mengenai reaksi kimia melintasi femtoseconds.

Menggunakan teknik laser ultra cepat (terdiri dari cahaya laser ultra pendek), teknik ini memberikan deskripsi reaksi pada tingkat atom. Dapat dilihat sebagai bentuk kehebatan tinggi dari cahaya fotografi.

Kini ia menetap di San Marino, California bersama isterinya Dema Zewail yang merupakan ahli obat-obatan di Universitas California, Los Angeles (UCLA). Selain itu, ia juga pernah mendapat Jabatan Linus Pauling dalam bidang Fisika Kimia di California Institute of Technology, Pasadena sejak tahun 1990.
Biografi Ahmed Zewail: Muslim Pertama Peraih Nobel Kimia
Fakta Menarik Dr. Ahmad Zewail:
  1. Ilmuwan kedua Muslim yang mendapat Hadiah Nobel dalam bidang kimia pada tahun 1999.
  2. Ia dilahirkan pada 26 Februari 1946 di Mesir.
  3. Orang tuanya begitu mengharapkannya menjadi seorang profesor. Malah sejak kecil, orang tuanya telah meletakkan tanda nama "Dr. Ahmed" di bilik bacaannya.
  4. Selain membaca, beliau sangat menyukai musik.
  5. Ia tidak menyukai Ilmu Sosial karena memerlukan seseorang itu mengingat sesuatu subjek sedangkan ia lebih suka bertanya "kenapa" dan "bagaimana".
  6. Minatnya dalam bidang matematika dan kimia bermula sejak kecil. Ia pernah membuat beberapa buah alat uji kaji termasuk sebuah perlengkapan dari alat pembakar milik ibunya (yang digunakan untuk membuat kopi).
  7. Bapak 4 orang anak itu memiliki 2 kewarganegaraan yaitu Mesir dan AS.
  8. Ia memegang 2 jabatan profesor di Caltech yaitu Profesor Fisika dan Kimia.
selengkapnya...

Biografi Abdus Salam: Muslim Pertama Peraih Nobel Fisika

Mohammad Abdus Salam (1926-1996) adalah seorang fisikawan dan satu-satunya penerima hadiah Nobel dari Pakistan. Lahir di Jhang, Punjab, Pakistan, Abdus Salam menempuh pendidikan S1 dan S2-nya di Universitas Punjab sebelum memperoleh beasiswa ke Universitas Cambridge. Di sana, dia mendapatkan gelar BA dengan double first-class honours di bidang fisika dan matematika pada tahun 1949. Pada tahun 1950, Abdus Salam memenangkan Smith's Prize dari Universitas Cambridge untuk the most outstanding pre-doctoral contribution to physics.

Abdus Salam menyelesaikan studi doktoralnya di bidang fisika teori (elektrodinamika kuantum) di universitas yg sama. Sejak sebelum disertasinya komplit, karya-karya ilmiah Abdus Salam telah dikenal di dunia internasional. Pada tahun 1958, Abdus Salam mendapatkan Adams Prize dari Universitas Cambridge sebagai first-class international researcher di bidang matematika. Pada usia 33 tahun, di tahun 1959, Abdus Salam menjadi salah satu anggota termuda Fellow of the Royal Society.

Ada 2 hal yang sangat menarik tentang tokoh yang satu ini. Yang pertama adalah sumbangannya terhadap kemajuan sains di negara berkembang, termasuk di negaranya sendiri, Pakistan.

Setelah menyelesaikan studi doktoralnya, Abdus Salam kembali ke Pakistan dengan tujuan mendirikan sekolah berbasis riset. Selama tahun 1951-1954, Abdus Salam mengajar matematika di Government College, Lahore, dan menjadi kepala departemen matematika di Universitas Punjab. Karena ternyata tidaklah mungkin mengejar karir riset di bidang fisika teori di Pakistan, Abdus Salam kemudian menerima tawaran mengajar dari Universitas Cambridge. Pada tahun 1957, Abdus Salam menjadi profesor bidang fisika teori di Imperial College, London. Di sana dia bertahan hingga masa pensiunnya.

Selama berkarya di luar negeri, Abdus Salam beberapa kali kembali negara asalnya, Pakistan, sebagai penasihat kebijakan sains. Abdus Salam berperan penting dalam pembentukan Pakistan Atomic Energy Comission (PAEC) dan Space and Upper Atmosphere Research Comission (SUPARCO), lembaga riset atom dan ruang angkasa Pakistan. Juga dalam pembentukan superior science colleges di seluruh Pakistan yang bertujuan memajukan sains di negara tersebut.
Biografi Abdus Salam: Muslim Pertama Peraih Nobel Fisika
Salah satu sumbangsih penting Abdus Salam terhadap negara berkembang adalah pembentukan International Centre for Theoretical Physics (ICTP) dengan program "Associateships"-nya. Melalui program ini, fisikawan-fisikawan muda dari negara berkembang bisa mendapat kesempatan selama 9 bulan untuk melakukan riset dan bersentuhan dengan komunitas internasional di Trieste. Abdus Salam juga mendirikan TWAS atau The Academy of Sciences for the Developing World yang juga bertujuan memajukan dan memfasilitasi sains di negara berkembang.

Abdus Salam menggunakan uang yg didapatnya dari penghargaan Atoms for Peace Medal and Award sebagai dana awal program Associateship ICTP dan membiayai fisikawan-fisikawan muda dari Pakistan untuk mengunjungi Trieste. Hadiah uang yang diterimanya dari penghargaan nobel sama sekali tidak digunakan untuk kepentingan pribadi dan keluarganya, tapi seluruhnya dihabiskan untuk kepentingan ilmuwan-ilmuwan dari negara berkembang.

Hal kedua yang sangat menarik dari tokoh ini adalah ketaatannya sebagai seorang Muslim. Abdus Salam adalah anggota Ahmadiyya Muslim Community. Dalam pidato penerimaan hadiah nobelnya, Abdus Salam mengutip ayat Qur'an sebagai berikut:
"Thou seest not, in the creation of the All-merciful any imperfection, Return thy gaze, seest thou any fissure. Then Return thy gaze, again and again. Thy gaze, Comes back to thee dazzled, aweary." Yang kemudian dilanjutkan dengan: "This, in effect, is the faith of all physicists; the deeper we seek, the more is our wonder excited, the more is the dazzlement for our gaze".
selengkapnya...

Sabtu, 18 Agustus 2012

Biografi Abi Mahasin: Dokter Muslim Spesialis Mata

Nama lengkap Abu Mahasin adalah Khalifah bin Abi al-Mahasin al-Halabi. Ia dikenal sebagai seorang dokter spesialis mata yang berasal dari Aleppo. Abi Mahasin diduga mempunyai hubungan keluarga dengan Ibnu Abi Ushaybi'ah, seorang bibliografer dan ahli kedokteran muslim.

Masyarakat menganggap Abu Mahasin adalah seorang dokter pintar karena ia selalu bisa menganalisa dan mendiagnosa penyakit yang dialami para pasiennya dengan tepat. Ia bahkan mampu membuat orang-orang yang datang berobat padanya merasa puas dan tenang. Para pasiennya itulah yang kemudian menjadi motor penggerak utama Abi Mahasin untuk mendalami cabang ilmu kedokteran lain, hingga menjadi seorang dokter ahli mata. Abi Mahasin dikenal sebagai sosok dokter yang dermawan dan merakyat. Pasiennya datang dari berbagai pelosok negeri dan dengan status sosial yang beragam. Tanpa mengenal lelah, ia melayani semua pasiennya dengan baik.

Di sela-sela kesibukannya sebagai seorang dokter, Abi Mahasin selalu menyempatkan diri untuk membaca dan belajar. Ia tidak hanya mempelajari ilmu kedokteran melalui praktek medisnya, tapi juga berusaha mengembangkannya melalui studi pustaka dan pendidikan formal. Tidak hanya itu, ia masih sempat pula membagi ilmunya ke sejumlah murid. Abi Mahasin juga selalu menuliskan pengalamannya sehari-hari sebagai dokter dalam bentuk buku.
Biografi Abi Mahasin: Dokter Muslim Spesialis Mata
Sekitar tahun 1256-1275 (654-574 H), Abi Mahasin mulai produktif menulis buku kedokteran, terutama ilmu kedokteran khusus mata. Dalam bukunya tersebut, ia selalu mencantumkan semacam petunjuk dan panduan memilih obat yang tepat sesuai dengan jenis penyakit yang diderita.

Buku al-Kafi fi al-Kuhl (fi al-Thibb) adalah salah satu karyanya di bidang opthalmologi (ilmu kedokteran mata). Dalam buku ini, ia memberikan sketsa ringkas mengenai sejarah opthalmologi Arab. Ia juga menguraikan beberapa masalah, seperti anatomi, fisiologi (ilmu fa'al tubuh), dan kesehatan mata secara lengkap. Ia juga menuliskan daftar obat-obatan yang bisa menyembuhkan suatu penyakit mata tertentu dan memberikan gambaran tentang beragam jenis operasi mata yang dapat dilakukan. Misalnya, operasi mata untuk menyembuhkan penyakit katarak. Di beberapa bagian buku, Abi Mahasin juga memasukkan sejumlah gambar dan ilustrasi yang menunjang isi buku. Pada masa itu, karya Abi Mahasin dianggap sebagai karya ilmiah yang berkualitas tinggi.

Di kemudian hari, sejumlah manuskrip karya Abi Muhasin diterjemahkan dalam berbagai bahasa. Salah satunya adalah bahasa Jerman, yang dilakukan oleh J. Hirschberg dan rekannya. Buku karya Abi Mahasin pun dijadikan bahan acuan oleh para dokter mata, baik di Arab maupun di Eropa. Keberadaan karya Abi Mahasin tentu saja berpengaruh pada perkembangan opthalmologi di kemudian hari.

Sumber: Buku Biografi Para Ilmuwan Muslim
selengkapnya...

Jumat, 17 Agustus 2012

Biografi Al-Battani: Peneliti Planet-Planet

Al-Battani lahir pada tahun 858 di Battan, Harran. Nama lengkapnya adalah Abu Abdullah Muhammad Ibn Jabir Ibnu Sinan al-Battani. Namun, para penulis abad pertengahan lebih sering menyebutnya dengan nama Albetegni atau al-Batenus.

Ketertarikan al-Battani pada benda-benda langit membuatnya menekuni bidang astronomi. Ia mendapat pendidikan tersebut dari sang ayah, Jabir Ibn San’an al-Battani, yang juga seorang ilmuwan. Dengan kecerdasannya, al-Battani mampu menguasai semua pelajaran yang diberikan ayahnya dan menggunakan sejumlah peralatan astronomi dalam waktu yang cukup singkat. Beberapa waktu kemudian, ia meninggalkan Harran menuju kota Raqqa yang terletak di tepi sungai Eufrat. Di kota ini, ia melanjutkan pendidikan dan mulai melakukan bermacam penelitian, yang kemudian menghasilkan sejumlah penemuan penting yang berguna bagi masyarakat dan pemerintah. Pada tanggal 14 September 786, khalifah Harun al-Rasyid, khalifah kelima Dinasti Abbasiyah, membangun sejumlah istana di kota tersebut sebagai bentuk penghargaannya atas penemuan al-Battani. Usai pembangunan tersebut, kota Raqqa berubah menjadi pusat kegiatan ilmu pengetahuan dan perdagangan yang ramai.

Sebagai seorang ahli astronomi, al-Battani menghasilkan sejumlah penemuan astronomi yang penting bagi dunia. Ia adalah ilmuwan pertama yang mengetahui berapa lama waktu yang diperlukan bumi mengelilingi matahari, yaitu 365 hari, 5 jam, 46 menit, dan 24 detik. Angka yang ditunjukkan dalam perhitungannya itu mendekati angka yang dihasilkan para ilmuwan modern saat melakukan penelitian yang sama dengan menggunakan alat yang lebih akurat. Ketika alat astronomi canggih belum ditemukan, al-Battani dikenal telah melakukan penelitian terhadap bermacam benda langit.

Selama 42 tahun, al-Battani terus melakukan penelitian semacam itu dan menghasilkan sejumlah penelitian yang mengagumkan. Ia menemukan garis bujur terjauh matahari mengalami pengingkatan 16,470 sejak perhitungan yang dilakukan Ptolomeus beberapa abad sebelumnya. Hal ini kemudian menghasilkan satu penemuan penting tentang gerak lengkung matahari. Al-Battani juga bisa menentukan kemiringan ekliptik, panjang musim, dan orbit matahari secara akurat. Ia bahkan berhasil menemukan orbit bulan dan planet, dan menetapkan Teori Kemunculan Bulan Baru. Pada tahun 1749, penemuan al-Battani mengenai garis lengkung bulan dan matahari digunakan Dunthorne untuk menentukan gerak akselerasi bulan.
Biografi Al-Battani: Peneliti Planet-Planet
Pada masanya, al-Battani adalah satu-satunya ahli astronomi yang mampu menggambarkan ukuran bulan dan matahari secara akurat. Al-Battani dianggap sebagai guru, terutama bagi orang-orang Eropa, karena ia banyak mengenalkan terminologi astronomi yang berasal dari bahasa Arab, seperti azimuth, zenith, dan nadir. Ia adalah penerus al-Farghani.

Karya al-Battani yang sangat berpengaruh adalah Kitab Ma’rifat Matali al-Buruj fi ma Bayna Arba al-Falak, sebuah buku ilmu pengetahuan tentang zodiak dan pemecahan soal-soal astrologi. Selain itu, dikenal pula Risalah fi Tahkik Akdar al-Ittisalat, yaitu sebuah uraian mengenai sejumlah penemuan dan penerapan astrologi. Karya al-Battani lainnya adalah az-Zaujush li Battani (Almanak Versi al-Battani). Buku ini memuat enam puluh tema, seperti pembagian planet, lingkaran kecil yang mengitari lingkaran besar, garis orbit, dan sirkulasi peredaran planet. Di kemudian hari, buku ini disunting oleh Carlo Nallino dan disimpan di Perpustakaan Oskorial, Spanyol. Salah satu buku astronomi karya al-Battani yang juga terkenal adalah Kitab al-Zij. Pada abad XII, buku ini diterjemahkan dalam bahasa Latin dengan judul De Scienta Stellerum u De Numeris Stellerum et Motibus oleh Plato dari Tivoli. Terjemahan tertua dari karya tersebut masih tersimpan di Vatikan.

Dalam bidang matematika, nama al-Battani juga cukup dikenal masyarakat dunia. Salah satu kontribusinya di bidang ini adalah upayanya melakukan perbaikan terhadap kaidah-kaidah dasar hukum astronomi yang didasarkan pada penemuan Ptolomeus yang tertulis dalam Almagest.

Al-Battani meninggal dunia pada tahun 927 di Irak.

Sumber: Buku Biografi Para Ilmuwan Muslim
selengkapnya...

Biografi Al-Qazwini: Mengenalkan Ilmu Geografi Secara Sistematis

Al-Qazwini lahir pada tahun 1200 (600 H) di Kazwin, Persia. Nama lengkapnya adalah Zakariyya bin Muhammad bin Mahmud Abu Yahya al-Qazwini. Ia adalah keturunan Anas bin Malik, yang terkenal sebagai ahli geografi dan kosmografi. Setelah menyelesaikan pendidikan di kampung halamannya, al-Qazwini hijrah ke Baghdad, sebelum kemudian menetap di Damaskus (1233).

Al-Qazwini adalah penulis sebuah karya besar bidang kosmografi, yaitu Aja’ib al-Makhluqat wa Ghara’ib al-Mawjudat atau Prodigies of Things and Mitaculous Aspects of Things Existing (Keajaiban Benda-Benda Ciptaan dan Aspek Luar Biada Benda-Benda yang Ada). Karya ini terbagi menjadi dua bagian. Bagian pertama membahas benda-benda yang tidak berkaitan dengan bumi, sedangkan bagian kedua menjelaskan yang sebaliknya. Pada bagian pertama, al-Qazwini menggambarkan fenomena yang berhubungan dengan langit, seperti bulan, bintang, matahari, penghuni surga, malaikat, dan sebagainya. Ia juga menguraikan kronologi penanggalan Arab dan Syiria. Pada bagian kedua, ia membahas empat elemen bumi (tanah, air, api, dan udara), meteor, dan angin. Selain itu, ia juga menjelaskan tentang tujuh iklim bumi, laut, dan sungai.

Dalam bukunya, al-Qazwini juga menerangkan penyebab terjadinya gempa bumi, pembentukan gunung dan mata air, serta serba-serbi dunia hewan, manusia, mineral, dan tanaman. Ketika membahas hewan dan manusia, ia mendeskripsikan karakter dan anatomi masing-masing. Dalam literatur muslim, karya al-Qazwini ini dianggap sebagai uraian kosmografi pertama yang sistematis. Tak heran, nama al-Qazwini langsung populer. Kebenaran uraiannya dibuktikan dalam sejumlah besar naskah versi Arab, terjemahan bahasa Persia dan Turki, serta beberapa karya revisi para ahli.
Biografi Al-Qazwini: Mengenalkan Ilmu Geografi Secara Sistematis
Dalam Aja’ib al-Makhluqat wa Ghara’ib al-Mawjudat, al-Qazwini memasukkan sejumlah Tabel Geometri dan miniatur tanaman, hewan, bahkan monster, yang dianggapnya bernilai artistik tinggi. Ia juga mendeskripsikan bumi yang dibaginya berdasarkan tujuh jenis iklim. Kota, negeri, gunung, sungai, dan lain-lain diurutkannya secara alfabetis. Ketika mendeskripsikan suatu kota atau negeri, ia tak pernah lupa memasukkan fakta-fakta historis, data geografis, dan biografi beberapa tokoh terkemuka yang berasal dari tempat tersebut. Di kemudian hari, buku karya al-Qazwini ini juga diterbitkan dalam bahasa Persia dan Turki.

Apresiasi al-Qazwini yang tinggi terhadap ilmu pengetahuan membuat beberapa ilmuwan Arab modern sering membandingkannya dengan Herodotus. Dalam buku Medieval islam (Chicago, 1947), G. Von Grunebaum sempat menguti beberapa pemikiran al-Qazwini yang tertulis dalam Aja’ib al-Makhluqat.

Al-Qazwini meninggal dunia pada tahun 1283 (682 H).

Sumber: Buku Biografi Para Ilmuwan Muslim
selengkapnya...

Biografi Abu Kamil Shuja': Ahli Aljabar Muslim

Abu Kamil dikenal sebagai ahli aljabar Islam yang cukup produktif menghasilkan karya. Nama lengkapnya adalah Abu Kamil Shuja’ bin Asalam bin Muhammad bin Shuja’ al-Hasib al-Misri. Ia dikenal sebagai penerus al-Khawarizmi. Abu Kamil adalah salah seorang ahli matematika terbesar pada abad pertengahan. Abu Kamil telah memberikan pengaruh besar pada perkembangan aljabar di Eropa. Tulisan-tulisannya tentang geometri pun sangat berpengaruh terhadap perkembangan geometri Barat, terutama sejumlah uraian aljabar terhadap soal geometri.

Semasa hidupnya, Kamil banyak menulis buku tentang ilmu aljabar. Al-Fihrist adalah sebuah daftar buku matematika dan astrologi. Buku ini memuat dua buah karyanya yang berjudul Kitab fi al-Jam wa al-Tafrik (Tentang Pertambahan dan Pengurangan) dan Kitab al-Khata’ayn (Tentang Dua Kesalahan). Kedua buku tersebut cukup terkenal di Eropa. Di kemudian hari, karya-karya Abu Kamil Shuja’ diterjemahkan dalam berbagai bahasa, seperti bahasa Latin dan Ibrani.

Pada tahun 1863, seorang ilmuwan Eropa yang bernama F. Woepeke memperkenalkan Kitab fi al-Jam wa at-Tafrik karya Kamil. Buku ini kemudian diterjemahkannya dalam bahasa Latin dengan judul Augmentum et Diminutio. Karya hebat Abu Kamil lainnya juga dimuat dalam sebuah buku yang berjudul at-Ta’arif, yang kemudian terkenal di Eropa. Buku ini berisi sejumlah penyelesaian integral dari persamaan-persamaan tak tentu. At-Ta’arif juga diterjemahkan dalam bahasa Ibrani, dengan diberi tambahan berupa risalah Abu Kamil tentang soal-soal aljabar.
Biografi Abu Kamil Shuja': Ahli Aljabar Muslim
Pada abad XIII, seorang ilmuwan Eropa yang bernama Leonardo berkata bahwa buku karangan Abu Kamil Shuja’ adalah salah satu karya andal di dunia Arab. Leonardo juga menerjemahkan sejumlah buku pengetahuan Arab, salah satunya adalah karya Abu Kamil. Sebagai ilmuwan pengembara, Leonardo menyebarkan pengetahuan matematika Hindu-Arab ke Eropa. Dengan dasar teori berhitung yang dipelajarinya dari karya Abu Kamil dan al-Khawarizmi, Leonardo berhasil menyusun sebuah buku berjudul Liber Abaci (1202), yang kemudian disempurnakannya kembali pada tahun 1228. Buku ini berisi pengetahuan tentang bilangan bulat dan pecahan, cara menghitung akar kuadrat dan akar kubik, serta cara memecahkan persamaan liner dan kuadrat. Sejumlah risalah geometri karya Abu Kamil juga disebarkan Leonardo dalam bentuk buku berjudul Practica Geometriae atau Practice of Geometry ke Eropa.

Karya Abu Kamil tentang aljabar lebih dikenal lewat terjemahannya dalam bahasa Latin. Hal tersebut dapat dilihat lewat sebuah hasil studi yang dilakukan oleh L. C. Karpinski, seorang ahli matematika dan fisika Eropa, yang menuliskan hasil penelitiannya dalam bidang matematika dalam sebuah buku berjudul The Algebra of Abu Kamil Shuja’ bin Asalam. Ia menyusun buku tersebut berdasarkan karya Abu Kamil versi bahasa Latin, khususnya bagian definisi jazr (akar), mal (kapital), dan mufrad (numerik). Karya Abu Kamil di bidang ilmu hitung tidak dapat dipisahkan dari pengaruh al-Khawarizmi. Namun, ada beberapa cara penyelesaian soal matematika ala Abu Kamil yang mengungguli para pendahulunya. Hal tersebut menandakan adanya kemajuan yang terjadi di setiap generasi.

Sumber: Buku Biografi Para Ilmuwan Muslim
selengkapnya...

Biografi Al-Farghani: Perintis Astronomi Modern

Al-Farghani adalah seorang ahli astronomi muslim yang sangat berpengaruh. Nama lengkapnya adalah Abu al-Abbas bin Muhammad bin Kalir al-Farghani. Di Barat, para ahli astronomi abad pertengahan mengenalnya dengan sebutan al-Farghanus. 

Al-Farghani berasal dari Farghana, Transoxania. Farghana adalah sebuah kota di tepi sungai Sardaria, Uzbekistan. Ia hidup di masa pemerintahan khalifah al-Ma'mun (813-833) hingga masa kematian al-Mutawakkil (847-881). Al-Farghani sangat beruntung hidup di dua masa tersebut karena pemerintah kekhalifahan memberi dukungan penuh bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Buktinya, sang khalifah membangun sebuah lembaga kajian yang disebut Akademi al-Ma'mun, dan mengajak al-Farghani untuk bergabung. Bersama para ahli astronomi lain, ia diberi kesempatan menggunakan peralatan kerja yang sangat canggih pada masa itu. Ia memanfaatkan fasilitas yang ada untuk mengetahui ukuran bumi, meneropong bintang, dan menerbitkan laporan ilmiah. Pada tahun 829, al-Farghani melakukan penelitian di sebuah observatorium yang didirikan oleh khalifah al-Ma'mun di Baghdad. Ia ingin mengetahui diameter bumi, jarak, dan diameter planet lainnya. Pada akhirnya, ia berhasil menyelesaikan penelitian tersebut dengan baik.

Al-Farghani juga termasuk orang yang turut memperindah Darul Hikmah al-Ma'mun dan mengambil bagian dalam proyek pengukuran derajat garis lintang bumi. Al-Farghani juga berhasil menjabarkan jarak dan diameter beberapa planet. Pada masa itu, hal tersebut merupakan pencapaian yang sangat luar biasa.

Hasil penelitian al-Farghani di bidang astronomi ditulisnya dalam berbagai buku. Harakat as-Samawiyya wa Jawami Ilm an-Nujum (Asas-Asas Ilmu Bintang) adalah salah satu karya utamanya yang berisi kajian bintang-bintang. Sebelum masa Regiomontanus, Harakat as-Samawiyya wa Jawami Ilm an-Nujum adalah salah satu buku yang sangat berpengaruh bagi perkembangan astronomi di Eropa.

Di dalam buku tersebut, al-Farghani memang mengadopsi sejumlah teori Ptolemaeus, tapi ia mengembangkanya lebih lanjut hingga membentuk teorinya sendiri. Tak heran, Harakat a-Samawiyya wa Jawami Ilm an-Nujum mendapatkan respon yang positif dari para ilmuwan muslim dan non muslim. Buku ini pun diterjemahkan dalam berbagai bahasa. Harakat as-Samawiyya wa Jawami Ilm an-Nujum yang diterjemahkan dalam bahasa Inggris mengalami perubahan judul menjadi The Elements of Astronomy. Pada abad XII, buku ini diterjemahkan pula dalam dua versi bahasa Latin. Salah satunya diterjemahkan oleh John Seville pada tahun 1135, sebelum kemudian direvisi oleh Regiomontanus pada tahun 1460-an. Sebelum tahun 1175, karya ini juga sempat diterjemahkan oleh Gerard Ceremona.
Biografi Al-Farghani: Perintis Astronomi Modern
Selanjutnya, Dante melengkapi karya al-Farghani ini dengan menambahkan pendapatnya tentang astronomi dan memasukkan karyanya yang berjudul La Vita Nuova. Seorang ilmuwan Yahudi yang bernama Jacob Anatoli juga menerjemahkan karya ini dalam bahasa Yahudi, dan menjadi terjemahan latin versi ketiga (1590). Pada tahun 1669, Jacob Golius menerbitkan teks Latin yang baru. Bersamaan dengan itu, sejumlah ringkasan karya al-Farghani telah beredar di kalangan para ilmuwan. Di kemudian hari, The Elements of Astronomy diakui sebagai sebuah karya yang sangat berpengaruh bagi para ilmuwan masa itu.

Tidak hanya aktif di bidang astronomi, al-Farghani juga aktif di bidang lain, seperti teknik. Seorang ilmuwan yang bernama Ibnu Tughri Birdi berkata bahwa al-Farghani pernah ikut melakukan pengawasan pada proyek pembangunan Great Nilometer di Kairo Lama (861). Nilometer adalah sebuah alat pengukur pasang-surut air sungai Nil. Alat ini dibangun di pulau Roda, sebuah pulau yang terletak di sebelah selatan Kairo. Nilometer berbentuk tiang yang mampu mencatat ketinggian air. Bangunan tersebut berhasil diselesaikan bersamaan dengan meninggalnya khalifah al-Mutawwakil, sang pencetus pembagunan Nilometer.

Al-Farghani juga pernah ditugaskan melakukan pengawasan pada sebuah proyek penggalian kanal di kota baru, al-Ja'fariyya, yang terletak berdekatan dengan Samaran di daerah Tigris. Proyek tersebut bernama Kanal al-Ja'fari. Saat itu, al-Farghani memerintahkan para pekerja untuk membuat bagian hulu kanal lebih dalam dari pada bagian yang lain. Dengan begitu, tidak akan ada air yang mengaliri kanal tersebut, kecuali jika permukaan air sungai Tigris sedang pasang. Kebijakan al-Farghani ini sempat membuat khalifah marah, namun hitungan al-Farghani kemudian dibenarkan oleh seorang pakar teknik yang berpengaruh, Sind bin Ali. Akhirnya, sang khalifah mau menerima kebijakan tersebut. Dalam bidang teknik, al-Farghani juga membuat karya dalam bentuk buku, yaitu Kitab al-Fusul, Ikhtiyar al-Majisti, dan Kitab 'Amal al-Rukhamat.

Karya utama al-Farghani yang berbahasa Arab masih tersimpan baik di Oxford, Paris, Kairo, dan di perpustakaan Universitas Princeton. Atas karya dan jasanya yang begitu banyak, nama al-Farghani dikenal sebagai salah satu perintis astronomi modern. Al-Farghani adalah tokoh yang memperkenalkan sejumlah istilah astronomi asli Arab pada dunia, seperti azimuth, nadir, dan zenith.

Sumber: Buku Biografi Para Ilmuwan Muslim
selengkapnya...

Biografi Al-Khawarizmi: Bapak Matematika Islam

Nama lengkap al-Khawarizmi adalah Abu Ja'far Muhammad bin Musa al-Khawarizmi. Ia lahir pada tahun 780 di Khwarizmi, sebuah kota kecil di pinggiran Sungai Oxus, Uzbekistan. Ia dipanggil dengan sebutan al-Khawarizmi untuk menunjukkan tempat kelahirannya. Di Barat, terutama Eropa, ia dikenal dengan nama Algoarismi, Algorism, atau Algoritma. Ketika al-Khawarizmi masih kecil, kedua orang tuanya pindah dari Uzbekistan menuju Baghdad, Irak. Pada masa itu, Irak berada di bawah pemerintahan Khalifah al-Ma'mun (813-833).

Al-Khawarizmi terkenal dengan teori Algoritmanya. Selain itu, ia juga menciptakan teori matematika lain. Misalnya, aljabar, yang disebut aritmetika (ilmu hitung) oleh para ilmuwan Barat. Pada masa itu, aljabar menggunakan angka-angka Arab. Aljabar diambil dari kata depan judul buku yang dikarangnya, yaitu al-Jabr wa al-Muqabilah. Dalam buku ini, ia merumuskan dan menjelaskan secara detail Tabel Trigonometri. Tak hanya itu, buku tersebut juga memperkenalkan sejumlah Teori Kalkulus Dasar. Kehebatan al-Khawarizmi lainnya adalah ia tidak hanya mampu mengenali suatu hal sebagai subyek, tapi juga mampu menyelesaikan masalah yang ada dalam subyek tersebut. Atas kontribusinya itu, al-Khawarizmi dianggap sebagai tokoh paling penting dalam sejarah perkembangan ilmu Matematika, terutama Aljabar. Dia adalah ilmuwan muslim pertama yang terkenal di bidang ini. Sebuah karangan al-Khawarizmi yang dianggap penting dan telah disalin dalam bahasa Latin adalah Trattari d'Arithmetica. Buku tersebut membahas beberapa soal hitungan, asal-usul angka, dan sejarah angka-angka yang sekarang ini kita gunakan. Trattari d'Arithmetica diterbitkan pada tahun 1857 di Roma.
Biografi Al-Khawarizmi: Bapak Matematika Islam
Pada era Copernicus, seseorang tidak bisa disebut sebagai ahli Matematika jika tidak mampu menganalisa karya ilmiah para ahli Matematika terdahulu. Oleh karena itu, para ahli pada masa itu berlomba-lomba menyalin beberapa contoh praktis untuk dianalisa, misalnya tentang perhitungan ketinggian gunung, kedalaman lembah, dan jarak antara dua buah obyek, atau permukaan yang tidak rata. Al-Khawarizmi sendiri menganalisa dan mengoreksi kesalahan yang terdapat dalam sebuah tulisan mengenai aljabaar karya Diophantus dari Yunani (250 SM). Ia menjelaskan kembali teori ciptaan Diophantus, sebelum kemudian mengembangkannya. Selain itu, ia juga menambahkan beberapa rumus lain, seperti rumus segitiga, dan menyusun daftar Logaritma.

Al-Khawarizmi juga menghasilkan karya di bidang astronomi. Ia membuat sebuah tabel yang khusus mengelompokkan ilmu perbintangan ini. Pada awal abad XII, sejumlah karya al-Khawarizmi diterjemahkan dalam bahasa Latin oleh Adelard of Bal dan Gerard of Cremona. Selanjutnya, karya al-Khawarizmi versi bahasa Latin tersebut diterjemahkan lagi dalam sejumlah bahasa yang digunakan di Eropa. Terakhir, karya tersebut diterjemahkan dalam bahasa Cina. Beberapa universitas di Eropa menggunakan buku karya al-Khawarizmi sebagai bahan acuan dan buku teks pelajaran untuk para mahasiswanya hingga memasuki pertengahan abad XVI.

Al-Khawarizmi meninggal dunia pada tahun 850.

Sumber: Buku Biografi Para Ilmuwan Muslim
selengkapnya...

Copyright © 2013 Kumpulan Biografi: Agustus 2012 | Blogger Template for Bertuah | Design by Ais Bertuah

Welcome to CB Network

Contoh Login Form Blogspot

Ini demo atau contoh Kotak Login dan Register Form. Login Form di samping ini hanya contoh dan tidak dapat digunakan layaknya Login Form FB karena blog ini terbuka untuk umum tanpa perlu mendaftar menjadi Member

Tutorial Blog

Untuk membuatnya silakan Pencet Sini

Member Login

Lost your password?

Not a member yet? Sign Up!