Minggu, 30 September 2012

Biografi Al-Jurjani: Dokter Muslim Penyusun Ensiklopedi Kedokteran

Nama lengkap al-Jurjani adalah Ismail bin al-Husayn Zaynuddin Abu’l Fada’il al-Husayni al-Jurjani. Ia adalah seorang bangsawan yang menguasai ilmu kedokteran. Di Barat, ia dipanggil dengan sebutan Gurgan. Dalam dunia kedokteran, nama al-Jurjani berkibar karena sejumlah karya fenomenal yang diciptakannya. Sepanjang hidupnya, ia meneliti berbagai masalah yang menyangkut dunia pengobatan. Secara detail dan terperinci, ia memaparkan masalah kedokteran dengan tujuan agar menjadi acuan para penerusnya.

Salah satu prestasi yang membuat nama al-Jurjani terkenal adalah keberhasilannya menyusun sebuah kamus besar yang berjudul Qamus al-Thib. Karena kelengkapan kamus ciptaannya tersebut, ia pun dijuluki sebagai Bapak Kamus. Di kemudian hari, Qamus al-Thib diterjemahkan dalam bahasa Turki, Urdu, Ibrani, Latin, dan bahasa Eropa lain. Qamus al-Thib menjadi salah satu buku acuan perkuliahan bagi para mahasiswa kedokteran di banyak negara.

Selain menulis kamus, al-Jurjani juga menulis sebuah buku ensiklopedi. Buku yang berjudul Dakhira-i Khwarizm Shahi itu dianggap sebagai buku karangan al-Jurjani yang paling bersejarah. Buku ini merupakan ensiklopedi kedokteran pertama yang ditulis dalam bahasa Persia dan memuat sekitar 450.000 kata. Ensiklopedi tersebut kemudian diterjemahkan dalam bahasa Arab dan Turki. Adapun ringkasannya diterjemahkan dalam bahasa Ibrani. Dakhira-i Khwarizm Shahi dianggap sebagai buku sumber informasi teori kedokteran dan farmakologi abad pertengahan. Sebagai sumber farmakologi, buku ini memuat nama-nama tumbuhan dan obat dalam bahasa Persia. Karya ini sangat terkenal di Persia dan India. Satu lagi karya ilmiah al-Jurjani adalah al-Khuffi al-Ala’i. Al-Jurjani menulis bukunya dalam bahasa Arab dan Persia.
Biografi Al-Jurjani: Dokter Muslim Penyusun Ensiklopedi Kedokteran
Semasa hidupnya, al-Jurjani telah menghasilkan banyak karya bermutu. Beberapa di antaranya bersifat substansial, terutama yang berkaitan dengan dunia kedokteran dan filsafat. Di kemudian hari, karya al-Jurjani dilestarikan dalam bentuk manuskrip. Sebuah risalah singkat berbahasa Arab yang membicarakan masalah kefanaan dunia karya al-Jurjani, al-Risalah al-Munabbiha, telah ditemukan dan digabungkan dalam sebuah buku biografi oleh al-Bayhaqi.

Pada tahun 1110 (504 H), al-Jurjani berangkat ke Khwarizmi dan bermukim lama di sana. Menurut beberapa sumber, al-Jurjani berteman akrab dengan khalifah Khwarizanshah Qutb al-Din Muhammad. Sebagai bukti persahabatan mereka, al-Jurjani mempersembahkan sebuah karyanya yang berjudul Dakhiri kepada sang khalifah. Selain itu, al-Jurjani juga bersahabat karib dengan Afsiz bin Muhammad, yang memberinya semangat untuk menulis sebuah buku kompendium singkat berjudul al-Khuffi al-Ala’a di kemudian hari.

Sumber: Buku Biografi Para Ilmuwan Muslim
selengkapnya...

Sabtu, 29 September 2012

Biografi Ibnu Sa’ati: Dokter Muslim dan Ahli Kunci

Nama lengkap Ibnu Sa’ati adalah Fakhruddin Ridwan bin Muhammad bin Ali bin Rustam al-Khurasani. Ia dilahirkan di Damaskus, tapi keluarganya berasal dari Khurasan. Keluarga besarnya termasuk kalangan intelektual. Ayahnya adalah seorang ahli pembuat kunci. Salah satu hasil karya ayah Ibnu Sa’ati yang terkenal adalah kunci dan gembok besar yang dipasang di pintu masuk Masjid Besar Damaskus. Barang tersebut dipesan langsung oleh Zangid al-Malik al-Adil Nur ad-Din Mahmud. Hasil karya ayahnya yang lain adalah sebuah jam yang ditempatkan di Bab al-Jairun atau Babus Sya’ah, Damaskus. Selain mahir membuat kunci dan jam, ayah Ibnu Sa’ati juga pakar astronomi.

Berbeda dari sang ayah, Ibnu Sa’ati justru memiliki keahlian di bidang kedokteran. Ia dikenal sebagai seorang dokter yang ahli mendiagnosa penyakit pasiennya. Selain itu, namanya juga terkenal di kalangan pejabat pemerintahan.

Ibnu Sa’ati juga ahli kepustakaan, ilmu logika, dan filsafat. Ia mengumpulkan banyak buku, terutama buku karya para filosof Arab. Buku-buku tersebut tersimpan rapi di perpustakaan pribadinya. Selain itu, ia gemar pula menuliskan pemikirannya tentang logika dan filsafat dalam bentuk risalah. Meskipun demikian, ia juga mewarisi keahlian membuat kunci dari sang ayah. Ia bahkan mampu mereparasi jam karya ayahnya yang dipasang di Bab al-Jairun. Sehubungan dengan keahliannya di bidang mekanik, ia pernah menulis sebuah buku yang menjelaskan tentang kegunaan dan konstruksi jam (1203). Buku ini dinilai sebagai karya monumental di bidang mekanik.

Dalam pemerintahan, Ibnu Sa’ati mempunyai karir yang cemerlang. Berkat kepandaiannya, ia memperoleh kedudukan penting sebagai seorang menteri pada masa pemerintahan al-Malik al-Faiz bin al-Malik al-Adil Muhammad bin Ayyub, yang merupakan keponakan dari Shalahuddin al-Ayyubi. Ia juga menjadi menteri dan dokter pribadi al-Malik al-Muazzam bin al-Malik al-Adil, salah satu saudara al-Faiz.
Biografi Ibnu Sa’ati: Dokter Muslim dan Ahli Kunci
Selain menulis tentang mekanika jam, Ibnu Sa’ati juga pernah menghasilkan sejumlah karya kedokteran. Namun sayang, karya-karyanya di bidang ini sulit ditemukan, demikian pula karyanya di bidang lain. Sebuah karya Ibnu Sa’ati tentang pembuatan kunci yang berjudul Risalah fi Amal as-Sa’ati wa Isti’malih telah diterjemahkan oleh E. Wiedemann dan Frietz Hauser pada tahun 1915.

Seorang saudara lelaki Ibnu Sa’ati yang bernama Baha’ al-Adin Abu al-Hasan Ali dikenal pula dengan nama yang sama, yaitu Ibnu Sa’ati. Namun, saudaranya ini lebih dikenal sebagai penyair yang cukup ternama di Kairo.

Ibnu Sa’ati wafat pada tahun 1230 (627 H) di Damaskus.

Sumber: Buku Biografi Para Ilmuwan Muslim
selengkapnya...

Jumat, 28 September 2012

Biografi Max Karl Ernst Ludwig Planck: Penemu Teori Kuantum

Max Karl Ernst Ludwig Planck (23 April 1858 – 4 Oktober 1947) adalah seorang fisikawan Jerman yang dikenal sebagai penemu teori kuantum. Lahir di Kiel, Planck memulai karir fisikanya di Universitas Munchen di tahun 1874, lulus pada tahun 1879 di Berlin. Dia kembali ke Munchen pada tahun 1880 untuk mengajar di universitas itu, dan pindah ke Kiel pada 1885. Di sana ia menikahi Marie Mack pada tahun 1886. Pada tahun 1889, dia pindah ke Berlin, di mana sejak 1892 dikenal sebagai penemu teori fisika.

Pada 1899, dia menemukan sebuah konstanta dasar, yang dinamakan konstanta Planck, dan sebagai contoh, digunakan untuk menghitung energi foton. Juga pada tahun itu, dia menjelaskan unit Planck yang merupakan unit pengukuran berdasarkan konstanta fisika dasar. Satu tahun kemudian, dia menemukan hukum radiasi panas, yang dinamakan Hukum Radiasi Benda Hitam Planck. Hukum ini menjadi dasar teori kuantum, yang muncul sepuluh tahun kemudian dalam kerja samanya dengan Albert Einstein dan Niels Bohr.

Dan dua asumsinya yang utama yang merupakan awal dari teori kuantum adalah mengenai sifat molukel-molukel yang berosilasi dari dinding rongga benda hitam, yaitu:

1). Molukel-molukel yang berosilasi mempunyai energi En yang sebanding dengan suatu kelipatan bilangan bulat positif n dari frekuensi osilasinya f.

2). Emisi dan absorpsi radiasi diasosiasikan dengan transisi atau loncatan antara dua tingkat energi itu; olehnya osilator kehilangan atau memperoleh energi dengan cara memancarkan (emisi) atau menyerap (absorpsi) masing-masing sejumlah energi radiasi tertentu yang dinamakan sebuah kuantum energi radiasi yang besarnya hf.
Biografi Max Karl Ernst Ludwig Planck: Penemu Teori Kuantum
Max Karl Ernst Ludwig Planck meninggal dunia pada 4 Oktober 1947.

*) Dari berbagai sumber
selengkapnya...

Kamis, 27 September 2012

Biografi K.H. Hasyim Asy’ari: Ulama Pembaharu Pesantren

K.H. Hasyim Asy’ari merupakan tokoh pendiri Pesantren Tebuireng dan perintis Nahdlatul Ulama (NU). Ia juga dikenal sebagai tokoh pendidikan pembaharu pesantren. Selain mengajarkan Islam di pesantren, K.H. Hasyim Asy’ari juga mengajarkan para santri membaca buku-buku pengetahuan umum, berorganisasi, dan berpidato.

K.H. Hasyim Asy’ari lahir di Pondok Nggedang, Jombang, Jawa Timur pada 10 April 1875. Ayahnya bernama Kiai Asy’ari, pemimpin Pesantren Keras yang berada di sebelah selatan Jombang. Ibunya bernama Halimah. Dari garis ibu, K.H. Hasyim Asy’ari merupakan keturunan Raja Brawijaya VI, yang juga dikenal dengan Lembu Peteng, ayah Jaka Tingkir yang menjadi Raja Pajang (keturunan kedelapan dari Jaka Tingkir).

Sejak kecil hingga berusia empat belas tahun, putra ketiga dari sebelas bersaudara ini mendapat pendidikan langsung dari ayah dan kakeknya, Kiai Utsman. Hasratnya yang besar untuk menuntut ilmu, mendorong ia untuk belajar lebih giat. Tidak puas dengan ilmu yang diterimanya, sejak berusia 15 tahun, ia berkelana dari satu pesantren ke pesantren lain. Ia mulai menjadi santri di Pesantren Wonokoyo (Probolinggo), Pesantren Langitan (Tuban), Pesantren Trenggilis (Semarang), dan Pesantren Siwalan, dan Panji (Sidoarjo). Di Pesantren Siwalan, ia belajar kepada Kiai Jakub yang kemudian mengambilnya sebagai menantu.

Pada 1892, Hasyim Asy’ari menunaikan ibadah haji dan menimba ilmu di Mekkah. Di sana, ia berguru kepada Syekh Nawawi al-Bantani, Syekh Ahmad Khatib, dan Syekh Mahfudh at-Tarmisi. Dalam perjalanan pulang ke tanah air, ia singgah di Johor, Malaysia. Ia pun mengajar di sana. Pada 1899, ia pulang ke Indonesia dan K.H. Hasyim Asy’ari mendirikan pesantren di Tebuireng yang kelak menjadi pesantren terbesar dan terpenting di Jawa pada abad ke-20. Sejak 1900, K.H. Hasyim Asy’ari memosisikan Pesantren Tebuireng menjadi pusat pembaruan bagi pengajaran Islam tradisional.

Di Pesantren Tebuireng, para santri belajar membaca huruf latin, menulis, dan membaca buku-buku yang berisi pengetahuan umum, berorganisasi, dan berpidato. Namun, ia mendapat tanggapan kurang baik di masyarakat sebab dianggap bid’ah. Ia dikecam, tetapi tidak mundur dari pendiriannya. Baginya, mengajarkan agama berarti memperbaiki manusia. Ia berusaha mendidik para santri dan menyiapkan mereka untuk terjun ke masyarakat. Hal itu adalah salah satu tujuan utama perjuangannya. Pesantren Tebuireng menjadi masyhur ketika para santri angkatan pertamanya berhasil mengembangkan pesantren di berbagai daerah dan juga menjadi besar.
Biografi K.H. Hasyim Asy’ari: Ulama Pembaharu Pesantren
Pada 31 Januari 1926, bersama dengan tokoh-tokoh Islam tradisional, K.H. Hasyim Asy’ari mendirikan Nahdlatul Ulama, yang berarti Kebangkitan Ulama. Organisasi ini pun berkembang pesat dan merekrut banyak anggota. Pengaruh K.H. Hasyim Asy’ari pun makin besar dengan mendirikan organisasi NU bersama teman-temannya. Hal itu dibuktikan dengan dukungan dari para ulama di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Bahkan, para ulama di berbagai daerah sangat menyegani kewibawaannya. Kini, NU pun berkembang makin pesat.

Meskipun menjadi tokoh penting dalam NU, ia tetap bersikap toleran terhadap aliran lain. Hal yang paling dibencinya adalah perpecahan kalangan umat Islam. Pemerintah Belanda bersedia mengangkatnya menjadi pegawai negeri dengan gaji yang besar asalkan ia mau bekerja sama. Namun, ia menolaknya dengan tegas.

Pada masa awal pendudukan Jepang, K.H. Hasyim Asy’ari ditangkap dengan alasan yang tidak jelas. Namun, berkat bantuan anaknya, K.H. Wahid Hasyim, beberapa bulan kemudian ia dibebaskan. Sesudah itu, ia diangkat menjadi Kepala Urusan Agama. Jabatan itu diterimanya karena terpaksa. Walaupun begitu, ia tetap mengasuh Pesantren Tebuireng.

Sosok K.H. Hasyim Asy’ari yang kharismatik dan berwibawa, membuat ia mendapat banyak dukungan saat memimpin Nahdlatul Ulama. K.H. Hasyim Asy’ari wafat pada 25 Juli 1947 dan dimakamkan di Tebuireng. Atas jasa-jasanya, pemerintah menganugerahi Pahlawan Kemerdekaan Indonesia kepada beliau.

*) Dari berbagai sumber
selengkapnya...

Biografi Al-Kindi: Pendiri Filsafat Islam

Nama lengkap al-Kindi adalah Abu Yusuf Ya’kub bin Ishak al-Kindi. Namun, masyarakat Barat sering menyebutnya al-Kindus. Al-Kindi berasal dari Arab Selatan. Ia lahir pada tahun 809. Keluarganya kaya dan terhormat.

Setelah menyelesaikan pendidikan dasarnya, al-Kindi pindah ke Basrah, Irak, untuk menambah pengetahuannya di berbagai bidang. Setelah itu, ia pindah lagi ke Baghdad untuk melanjutkan kuliah. Al-Kindi dikenal sebagai seorang filosof yang mahir kimia dan matematika. Dalam sejumlah karyanya, al-Kindi sering membahas masalah logika dan matematika. Ia juga sering mengulas buku karya Aristoteles.

Dalam catatan biografi al-Kindi, al-Muntakhab, dikatakan bahwa ia adalah muslim pertama yang terkenal di bidang filsafat. Sejumlah karya, terjemahan, dan koreksi terhadap hasil karyanya sendiri adalah bentuk sumbangsihnya bagi perkembangan ilmu pengetahuan. Ia adalah tokoh yang memperkenalkan masalah metafisika, psikologi, etika, dan metode pendekatan secara logika serta ilmiah kepada masyarakat muslim Arab. Para ilmuwan Arab menganggapnya sebagai pendiri Filsafat Muslim Arab. Seorang filosof sempurna dan pemikir yang bijak. Karya-karyanya yang luar biasa membuat namanya berada pada posisi tertinggi di bidang ilmu pengetahuan.

Dengan kecerdasan dan keahlian yang dimilikinya, al-Kindi juga menulis buku tentang kriptologi atau seni memecahkan kode. Dalam bukunya yang berjudul Risalah fi Istikhraj al-Mu’amma atau Manuscript for the Deciphering Cryptographic Messages itu, ia menjelaskan beberapa cara menguraikan kode rahasia. Ia juga mengklasifikasikan kode rahasia tersebut, menjelaskan ilmu fonetik Arab dan sintaksisnya. Lewat buku tersebut, al-Kindi memperkenalkan penggunaan metode statistika untuk memecahkan kode rahasia. Pengalamannya bekerja sebagai penerjemah sandi rahasia dan pesan tersembunyi yang terdapat dalam naskah asli Yunani dan Romawi, telah mempertajam naluri al-Kindi di bidang kriptoanalisa. Sehubungan dengan itu, ia pernah menjabarkan pengalamannya tersebut dalam sebuah makalah. Di kemudian hari, makalah tersebut dibawa ke Barat untuk diterjemahkan dan diterbitkan dalam bentuk buku yang berjudul Manuscript on Deciphering Cryptographic Messages.
Biografi Al-Kindi: Pendiri Filsafat Islam
Tidak hanya menguasai ilmu kriptografi, al-Kindi juga pakar di bidang matematika. Ia telah menghasilkan beberapa buku mengenai sistem penomoran, yang kemudian menjadi dasar aritmatika modern. Selain itu, al-Kindi juga memberikan kontribusi besar dalam bidang geometri bola, bidang yang sangat mendukungnya dalam studi astronomi. Bersama al-Khawarizmi dan Banu Musa bersaudara, ia diberi tugas menerjemahkan karya-karya filosof Yunani dalam bahasa Arab oleh Khalifah al-Makmun.

Al-Kindi sangat mengagumi pemikiran para filosof Yunani – Romawi. Ia sangat terilhami oleh dua filosof besar Yunani, yaitu Socrates dan Aristoteles. Pengaruh kedua tokoh ini bisa dilihat dalam beberapa karya al-Kindi.

Sumber: Buku Biografi Para Ilmuwan Muslim
selengkapnya...

Selasa, 25 September 2012

Biografi Syekh Nawawi Al-Bantani Al-Jawi: Mahaguru Ulama Indonesia

Syekh Nawawi al-Bantani al-Jawi adalah ulama kelahiran Desa Tanara, Kecamatan Tirtayasa, Serang, Banten pada 1813. Ia layak menempati posisi sebagai tokoh utama Kitab Kuning Indonesia karena hasil karyanya menjadi rujukan utama berbagai pesantren di tanah air, bahkan di luar negeri. Ulama ini bernama lengkap Abu Abdullah al-Mu’thi Muhammad Nawawi bin Umar al-Tanari al-Bantani al-Jawi.

Sejak kecil, ia telah diarahkan oleh ayahnya, K.H. Umar bin Arabi untuk menjadi seorang ulama. Ayahnya menyerahkan Nawawi kepada K.H. Sahal, ulama terkenal di Banten. Setelah belajar bersama K.H. Sahal, Nawawi belajar kepada K.H. Yusuf, seorang ulama besar Purwakarta.

Ayah Syekh Nawawi adalah seorang pejabat penghulu. Berdasarkan silsilahnya, ayah Syekh Nawawi merupakan keturunan kesultanan ke-12 dari Maulana Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati, Cirebon), yaitu keturunan putra Maulana Hasanuddin (Sultan Banten I) yang bernama Sunyararas (Tajul ‘Arsy).

Ketika berusia 15 tahun, Nawawi pergi ke Mekkah bersama dua orang saudaranya untuk menunaikan ibadah haji. Akan tetapi, setelah musim haji usai, ia tidak langsung pulang ke Indonesia. Nawawi tetap tinggal di Mekkah. Ia memperdalam agama Islam kepada para ulama besar kelahiran Indonesia, seperti Imam Masjid Masjidil Haram Syekh Ahmad Khatib Sambas, Abdul Ghani Bima, Yusuf Sumbulaweni, Syekh Nahrawi, Syekh Ahmad Dimyati, Ahmad Zaini Dahlan, Muhammad Khatib Hambali, dan Syekh Abdul Hamid Daghestani.

Tiga tahun lamanya Nawawi menggali ilmu dari ulama-ulama Mekkah. Setelah itu, ia pun kembali ke Indonesia. Lalu, ia mengajar di pesantren ayahnya. Namun di tanah air, ia tidak dapat mengembangkan ilmunya karena saat itu negara Indonesia memang sedang dijajah Belanda. Akhirnya, Nawawi kembali ke Mekkah dan tinggal di daerah Syi’ab ‘Ali.

Nawawi memiliki kecerdasan dan ketekunan yang luar biasa. Hal tersebut menjadikan Nawawi sebagai murid terpandang di Masjidil Haram. Ia akhirnya menjadi Imam Masjidil Haram untuk menggantikan Syekh Ahmad Khatib Sambas yang telah berusia lanjut. Nawawi mendapat panggilan Syekh Nawawi al-Bantani al-Jawi.

Ia juga menjadi guru bagi siswa-siswa yang datang dari berbagai belahan dunia. Murid-murid Nawawi yang berasal dari Indonesia adalah K.H. Kholil Madura, K.H. Asnawi Kudus, K.H. Tubagus Bakri, K.H. Arsyad Thawil dari Banten, dan K.H. Hasyim Asy’ari dari Jombang. Mereka inilah yang kemudian menjadi ulama-ulama terkenal di Indonesia.

Syekh Nawawi juga giat menulis buku. Ia termasuk penulis yang banyak melahirkan karya. Ia banyak menulis kitab tentang persoalan agama. Paling tidak, 34 karya Syekh Nawawi tercatat dalam Dictionary of Arabic Printed Books karya Yusuf. Beberapa kalangan bahkan menyebutkan bahwa Nawawi telah menulis lebih dari 100 judul buku dari berbagai disiplin ilmu. Sebagian karya Syekh Nawawi diterbitkan di Timur Tengah. Dengan karya-karyanya ini, ia ditempatkan sebagai Sayyid Ulama Hijaz hingga kini. Selanjutnya, kitab-kitabnya itu menjadi bagian dari kurikulum pendidikan agama di seluruh pesantren di Indonesia, bahkan di Malaysia, Filipina, Thailand, dan juga di Timur Tengah.

Nawawi pun dijuluki Imam Nawawi kedua. Nawawi pertama adalah yang menulis Syarah Shahih Muslim, Majmu’ Syahrul Muhadzdzab, Riyadhush Shalihin, dan lain-lain. Ia tetap dipanggil Syekh Nawawi (al-Bantani) bukan Imam Nawawi (ad-Dimasyqi).

Nama Syekh Nawawi pun termasuk salah satu ulama besar abad ke-14 H/19 M. Tentu ini berkat karya Nawawi yang tersebar luas dan ditulis dengan menggunakan bahasa yang mudah dipahami. Berkat kemasyhurannya pula, ia mendapat gelar A’yan ‘Ulama al-Qarn ar-Ram ‘Asyar Li al-Hijrah, al-Imam al-Mullaqqiq wa al-Fahhamah al-Mudaqqiq, dan Sayyid ‘Ulama al-Hijaz.
Biografi Syekh Nawawi Al-Bantani Al-Jawi: Mahaguru Ulama Indonesia
Karya Nawawi pun banyak masuk di Indonesia. Hal ini tentu berdampak pada perkembangan wacana keislaman di pesantren. Sejak 1888, kurikulum pesantren mulai ada perubahan mencolok. Jika sebelumnya tidak ditemukan sumber referensi di bidang tafsir, ushul fiqh, dan hadits, sejak saat itu bidang keilmuan tersebut mulai dikaji. Perubahan ini juga tidak terlepas dari jasa tiga ulama Indonesia, yaitu Syekh Nawawi, Syekh Ahmad Khatib, dan Kiai Mahfuz Termas.

Karya-karya Nawawi memang sangat berpengaruh bagi pendidikan pesantren. Sampai tahun 1990, diperkirakan terdapat 22 judul tulisan Nawawi yang masih dipergunakan di pesantren. Selain itu, 11 karya populer sering digunakan sebagai kajian di pesantren-pesantren.

Penyebaran karya Nawawi di sejumlah pesantren yang tersebar di seluruh wilayah Nusantara pun makin memperkokoh pengaruh ajaran Nawawi. Perlu diketahui, penyebaran karya Nawawi tersebut tidak terlepas dari jasa K.H. Hasyim Asy’ari, salah seorang murid Nawawi yang berasal dari Jombang. K.H. Hasyim Asy’ari-lah yang memperkenalkan kitab-kitab Nawawi di pesantren-pesantren di Jawa.

Syekh Nawawi al-Bantani wafat dalam usia 84 tahun di Syeib ‘Ali, sebuah kawasan di pinggiran Mekkah, pada 25 Syawal 1314 H/1879 M. Ia dimakamkan di Ma’la, Arab Saudi, dekat makam Khadijah binti Khuwailid. Beberapa tahun setelah wafat, pemerintah Kerajaan Saudi berniat memindahkan makam beliau, namun para petugas berwenang segera mengurungkan niatnya. Hal ini karena jenazah Syekh Nawawi al-Bantani dan kain kafannya terlihat masih utuh. Jika pergi ke Mekkah, kita masih bisa berziarah ke makam beliau, di pemakaman umum Ma’la.

*) Dari berbagai sumber
selengkapnya...

Biografi Singkat Wilhelm Eduard Weber: Teoritikal Fisikawan

Wilhelm Eduard Weber (24 Oktober 1804 – 23 Juni 1891) adalah seorang teoritikal fisikawan. Ia dilahirkan di Wittenberg dan merupakan anak kedua dari tiga bersaudara. Ayahnya merupakan salah seorang profesor di bidang teologi. Pada tahun 1815, ayahnya dipindahtugaskan dari Universitas Wittenberg ke Universitas Hale. Setelah ayahnya meninggal dunia, ia dimasukkan ke panti asuhan Asylum dan bersekolah di Grammar School di Hale dan memperoleh gelar Doktor pada Universitas Hale dan menjadi profesor di bidang filosofi alami.

Pada tahun 1831, atas rekomendasi dari Gauss, ia dipanggil ke Gottingen untuk menjadi profesor fisika dan mengajar di sana. Ia bersama adiknya, Ernst Heinrich Weber, yang merupakan Profesor bidang Anatomi di Leipzig, menulis buku yang berjudul Wave Theory and Fluidity yang menjadi best seller pada masa itu. Ia dan adiknya mempublikasikan kembali beberapa artikel, di antaranya, Poggendorffs Annalen, Schweigger’s Jahrbucher fur Chemie und Phsyik, dan artikel musik “Carcilia”.

Pada tahun 1833, ia dan Gauss melakukan percobaan elektromagnetik pertama yang dilakukan di institut fisika di Gottingen. Salah satu penemuannya yang terpenting, yaitu Atlas de Erdmagnetismus (“atlas of geomagnetism”), merupakan seri peta magnet. Pada tahun 1864, ia dan Gauss mempublikasikan proposal mengenai pengukuran elektrodinamika yang merupakan sistem pengukuran arus listrik.
Biografi Singkat Wilhelm Eduard Weber: Teoritikal Fisikawan
Weber meninggal dunia pada tanggal 23 Juni 1891 di Gottingen dan dikuburkan pada pemakaman yang sama dengan Max Planck dan Max Born. Satuan Internasional (SI) fluks magnetik, Weber (Wb), dinamai sesuai namanya.

*) Dari berbagai sumber
selengkapnya...

Minggu, 23 September 2012

Biografi H. Agus Salim: Berjuang Tak Kenal Usia

H. Agus Salim terlahir dengan nama Mashudul Haq, yang bermakna "pembela kebenaran" di kota Gadang, Bukit Tinggi, Minangkabau pada 8 Oktober 1884. H. Agus Salim terlahir dari pasangan Angku Sutan Mohammad Salim dan Siti Zainab. Ayahnya seorang kepala jaksa di Pengadilan Tinggi Riau. H. Agus Salim menikah dengan Zaenatun Nahar dan dikaruniai 8 orang anak.

Pendidikan dasar H. Agus Salim ditempuh di Europeesche Lagere School (ELS), sekolah khusus untuk anak-anak Eropa. Ia lalu melanjutkan pendidikan ke Hoogere Burger School (HBS) di Batavia. Ketika lulus, ia berhasil menjadi lulusan terbaik di HBS se-Hindia Belanda. Setelah lulus, ia bekerja sebagai penerjemah dan pembantu notaris di sebuah kongsi pertambangan di Indragiri, Riau. Pada 1906, ia berkangkat ke Jeddah, Arab Saudi untuk bekerja di Konsulat Belanda di sana. Di sana, ia berguru kepada pamannya, Syekh Ahmad Khatib.

H. Agus Salim kemudian menekuni dunia jurnalistik sejak 1915 di harian Neratja sebagai Redaktur II. Setelah itu, ia diangkat menjadi Ketua Redaksi. Hingga akhirnya ia menjadi Pimpinan harian Hindia Baroe di Jakarta. Kemudian, ia pun mendirikan surat kabar Fadjar Asia. Selanjutnya, ia menjadi redaktur di harian Moestika di Yogyakarta, dan membuka kantor Advies en Informatie Bureau Penerangan Oemoem (AIPO). Bersamaan dengan itu, ia terjun dalam dunia politik sebagai pemimpin Sarekat Islam.
Biografi H. Agus Salim: Berjuang Tak Kenal Usia
Karir politiknya dimulai pada 1915, ketika ia bergabung dengan Sarekat Islam (SI) dan menjadi pemimpin kedua di SI setelah H.O.S. Tjokroaminoto. Sejak itu, H. Agus Salim banyak terlibat dalam pentas politik bangsa ini, terutama berperan pada masa perjuangan kemerdekaan. Peran sertanya dalam perjuangan kemerdekaan RI antara lain sebagai anggota Volksraad (1921 - 1924), anggota panitia 9 BPUPKI yang mempersiapkan UUD 1945, Menteri Muda Luar Negeri Kabinet Sjahrir II 1946 dan Kabinet II 1947, pembukaan hubungan diplomatik Indonesia dengan negara-negara Arab. Selain itu, ia juga menjadi Menteri Luar Negeri pada Kabinet Amir Sjarifuddin (1947) dan Menteri Luar Negeri Kabinet Hatta (1948 - 1949).

Di antara tahun 1946 - 1950, H. Agus Salim laksana bintang cemerlang dalam pergolakan politik Indonesia. Dengan demikian, ia kerap kali digelari "Orang Tua Besar" (The Grand Old Man). Pada 1950 sampai akhir hayatnya, ia dpercaya sebagai Penasihat Menteri Luar Negeri. Pada 1952, ia menjabat Ketua di Dewan Kehormatan PWI. Walaupun penanya tajam dan kritikannya pedas, Haji Agus Salim masih mengenal batas-batas dan menjunjung tinggi kode etik jurnalistik. Pada 1953, ia menulis buku Bagaimana Takdir, Tawakal dan Tauhid Harus Dipahamkan? Kemudian, buku itu diperbaiki menjadi Keterangan Filsafat tentang Tauhid, Takdir, dan Tawakal.

H. Agus Salim wafat pada 4 November 1954 di RSU Jakarta. Beliau dimakamkan di TMP Kalibata, Jakarta. Sebagai bentuk penghargaan atas jasa-jasanya bagi negeri ini, pemerintah Indonesia menganugerahinya sebagai seorang pejuang kemerdekaan Indonesia.

*) Dari berbagai sumber
selengkapnya...

Biografi K. H. Abdul Wahid Hasyim: Berprestasi di Usia Muda

K. H. Abdul Wahid Hasyim lahir pada 1 Juni 1914. Ia adalah putera kelima dari pasangan K. H. Hasyim Asy’ari dengan Nyai Nafiqah binti K. Ilyas. Abdul Wahid sangatlah cerdas. Pada saat kanak-kanak, ia sudah pandai membaca al-Quran. Ia khatam al-Quran ketika berusia tujuh tahun. Selain mendapat bimbingan langsung dari ayahnya, ia juga belajar di Madrasah Salafiyah di Pesantren Tebuireng.

Abdul Wahid tidak pernah mengenyam pendidikan di sekolah pemerintah kolonial. Meskipun begitu, pada usia 15 tahun, ia sudah mengenal huruf latin dan menguasai bahasa Inggris dan Belanda. Saat berusia 18 tahun, ia berangkat ke Mekkah untuk menunaikan ibadah haji dan memperdalam ilmu agama. Di tanah suci, ia belajar selama dua tahun. Sepulang dari Mekkah, ia banyak menerima tawaran untuk aktif di perhimpunan atau organisasi pergerakan. Akhirnya, ia memutuskan untuk bergabung bersama Nahdlatul Ulama. Pada tahun 1938, ia menjadi pengurus NU ranting Cukir. Beberapa waktu kemudian, ia dipercaya menjadi ketua NU Jombang. Pada tahun 1940, HBNO mengesahkan Departemen Ma’arif (pendidikan) untuk dipimpin olehnya. Inilah awal keterlibatan Abdul Wahid Hasyim dalam kepengurusan NU di tingkat pusat (PBNU).

Meskipun dikenal sebagai pemimpin nasional yang berpikiran maju, K. H. Abdul Wahid Hasyim tetap memiliki sifat tawadhu. Hal itu, bisa dilihat ketika berbicara dengan sang ayah, K. H. Hasyim Asy’ari. Ia selalu berbicara dengan bahasa kromo inggil (Jawa halus). Padahal, ayahnya mengajak bicara dalam bahasa Arab. Salah satu kegemarannya adalah berkirim surat. Surat-surat itu umumnya berisi pandangan politik, arah perjuangan, dan cita-cita. Segalanya ditulis dalam bahasa menarik, lancar, dan dibumbui dengan humor segar.

Ketika Jepang masuk ke Indonesia, K. H. Wahid Hasyim ditunjuk menjadi Ketua Majlis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi). Selain mengadakan pergerakan politik melalui Masyumi, ia juga mengembangkan pendidikan di kalangan umat Islam. Pada tahun 1944, ia mendirikan Sekolah Tinggi Islam di Jakarta. Ia juga merintis pembentukan Hizbullah sebagai sayap “militer” yang membantu perjuangan umat Islam dalam merebut kemerdekaan. Perhatiannya pada dunia pendidikan sangat besar. Saat menjadi Menteri Agama pada 1950, ia mengeluarkan peraturan berdirinya Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri (PTAIN) yang kini menjadi IAIN (UIN).
Biografi K. H. Abdul Wahid Hasyim: Berprestasi di Usia Muda
Karier Wahid Hasyim dalam pentas politik nasional terus melejit. Saat Jepang membentuk Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI), ia menjadi salah satu anggota termuda dari 62 anggota. Ia juga merupakan tokoh termuda dari sembilan tokoh nasional yang menandatangani Piagam Djakarta, sebuah piagam yang melahirkan proklamasi dan konstitusi negara.

Dalam kabinet yang dibentuk Presiden Soekarno pada September 1945, ia ditunjuk menjadi Menteri Negara. Demikian juga dalam Kabinet Syahrir pada 1946. Ketika KNIP dibentuk, ia menjadi anggota mewakili Masyumi dan meningkat menjadi anggota BPKNIP tahun 1946. Setelah berdirinya RIS, dalam Kabinet Hatta tahun 1950, ia diangkat menjadi Menteri Agama.

Pada 18 April, K. H. Wahid Hasyim bermaksud pergi ke Sumedang untuk menghadiri rapat NU. Ia ditemani puteranya, Abdurrahman Wahid (Gusdur). Ketika memasuki Cimindi, mobil yang ditumpanginya selip. Sopirnya tidak bisa menguasai kendaraan. Bagian belakang mobil membentur truk hingga K. H. Wahid Hasyim terlempar keluar mobil. Sejak kecelakaan itu, ia pingsan hingga akhirnya wafat pada 19 April 1953 dalam usia 39 tahun. Jenazahnya dimakamkan di PesantrenTebuireng, Jombang.

*) Dari berbagai sumber
selengkapnya...

Jumat, 21 September 2012

Biografi Singkat Johann Carl Friedrich Gauss: Matematikawan Jerman

Carl Friedrich Gauss (1777 - 1855) adalah seorang matematikawan, astronomi, dan fisikawan asal Jerman legendaris yang memberikan beragam kontribusi. Ia dipandang sebagai salah satu matematikawan terbesar sepanjang masa selain Archimedes dan Isaac Newton.

Pada tanggal 30 April 1777, Carl Friedrich Gauss dilahirkan di Braunschweig, Jerman. Pada saat umurnya belum genap 3 tahun, ia telah mampu mengoreksi kesalahan daftar gaji tukang batu ayahnya. Menurut sebuah cerita, pada umur 10 tahun ia membuat gurunya terkagum-kagum dengan memberikan rumus untuk menghitung jumlah suatu deret aritmatika berupa perhitungan deret 1 + 2 + 3 + ... + 100. Meski cerita ini hampir sepenuhnya benar, soal yang diberikan gurunya sebenarnya lebih sulit dari itu.

Gauss seorang ilmuwan dalam berbagai bidang, seperti matematika, fisika, dan astronomi. Bidang analisis dan geometri menyumbang banyak sekali sumbangan-sumbangan pikiran Gauss dalam matematika. Kalkulus (termasuk limit) merupakan salah satu bidang analisis yang juga menarik perhatiannya.
Biografi Singkat Johann Carl Friedrich Gauss: Matematikawan Jerman
Gauss meninggal dunia di Gottingen pada tanggal 23 Februari 1855.

*) Dari berbagai sumber
selengkapnya...

Kamis, 20 September 2012

Biografi Charles Augustin de Coulomb: Hukum Coulomb (Muatan Listrik)

Charles Augustin de Coulomb (1736 - 1806) merupakan fisikawan asal Perancis yang merumuskan gaya tarik menarik antara benda bermuatan listrik yang dinamai sesuai namanya, yaitu Hukum Coulomb. Ia dilahirkan di Angouleme, Perancis pada tanggal 14 Juni 1736. Ia berprofesi sebagai insinyur militer selama tiga tahun di pelabuhan Bourbon, Martinique.

Pada tahun 1780-an, Charles Coulomb menyelidiki gaya listrik dengan menggunakan pengimbang torsi. Peralatan yang digunakan Coulomb hampir sama dengan peralatan Cavendish, yaitu peralatan yang digunakan untuk gaya gravitasi.

Ketika bola bermuatan didekatkan ke bola pada batang yang tergantung, batang tersebut berotasi sedikit. Serat tempat batang bergantung menahan gerak berputarnya batang tersebut dan sudut putaran sebanding dengan gaya yang diberikan. Dengan menggunakan peralatan ini, Coulomb menyelidiki bagaimana gaya listrik bervariasi sebagai fungsi besar muatan dan jarak di antaranya.

Coulomb berpendapat bahwa:
  1. Gaya yang diberikan pada satu benda bermuatan dengan benda bermuatan lainnya berbanding lurus dengan muatan pada masing-masing benda tersebut. Artinya, jika muatan pada salah satu benda digandakan, gaya akan naik menjadi empat kali lipat dari nilai awalnya. Hal ini berlaku jika jarak antara kedua muatan tersebut tetap sama.
  2. Jika jarak antara kedua muatan bertambah maka gaya akan berkurang terhadap kuadrat jarak antara kedua muatan tersebut. Artinya, jika jarak digandakan, gaya akan berkurang menjadi seperempat nilai awalnya.
Biografi Charles Augustin de Coulomb: Hukum Coulomb (Muatan Listrik)
Dengan demikian, Coulomb menyimpulkan bahwa gaya yang diberikan satu benda kecil bermuatan pada benda bermuatan kedua sebanding dengan hasil kali besar muatan benda pertama Q1 dengan besar muatan benda kedua Q2, dan berbanding terbalik terhadap kuadrat jarak r di antaranya.

Pada tahun 1781, ia menetap di Paris. Setelah revolusi berakhir pada tahun 1789, ia mengundurkan diri dari jabatannya sebagai intendant des eaux et fontaines, kemudian pindah dan tinggal di sebuah rumah di Blois. Pada tahun 1802, ia dipanggil ke Paris dan kemudian diangkat menjadi inspektur. Oleh karena kesehatannya yang semakin memburuk, empat tahun kemudian, tepatnya tanggal 23 Agustus 1806, ia meninggal dunia di Paris, Perancis.

*) Dari berbagai sumber
selengkapnya...

Rabu, 19 September 2012

Biografi Singkat Alexander Fleming: Penemu Penisillin

Alexander Fleming (1881 - 1955) pertama kali mempelajari pengaruh jamur terhadap bakteri secara ilmiah pada tahun 1928. Pada saat itu, ia mencoba menyelidiki pengaruh jamur Penicillium notatum terhadap pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus. Dalam penelitiannya tersebut diketahui bahwa ekstrak dari jamur Penicillium mampu menghancurkan koloni Staphylococcus. Ekstrak itulah yang sekarang dikenal dengan nama penisillin, yaitu semacam antibiotik.

Antibiotik dalam bidang kesehatan digunakan untuk melawan penyakit yang disebabkan oleh bakteri. Dalam hal ini, penisillin digunakan untuk melawan penyakit semacam sifilis dan penyakit scarlet fever. Antibiotik lainnya, seperti streptomisin digunakan untuk penyakit tuberkulosis. Antibiotik tidak sepenuhnya dapat digunakan untuk melawan virus.

Karena keberhasilannya menemukan penisillin akhirnya Alexander Fleming mendapatkan hadiah Nobel dalam bidang kesehatan.
Biografi Singkat Alexander Fleming: Penemu Penisillin
Sebagai pengetahuan, ada beberapa jenis Penicillium, di antaranya adalah sebagai berikut:
  1. Penicillium notatum dan Penicillium chrysogenum, mampu menghasilkan antibiotik penisilin.
  2. Penicillium camemberti dan Penicillium roqueforti bermanfaat dalam memberi ciri rasa atau mengharumkan keju, yaitu dengan cara menurunkan kadar kasein pada bahan keju.
*) Dari berbagai sumber
selengkapnya...

Selasa, 18 September 2012

Biografi Al-Farisi: Sang Ahli Optik Islam

Al-Farisi dikenal sebagai murid pilihan Kuth al-Din Shirazi. Ia tercatat sebagai alumni School of Maraghi, sebuah lembaga ilmu pengetahuan dan teknologi yang didirikan oleh al-Thusi, juga sebagai asisten dan pengganti al-Thusi. Ia mewarisi semua sifat Nashiruddin al-Thusi. Kecemerlangan pemikiran al-Farisi membuatnya menjadi ilmuwan kesayangan para pengajarnya.

Brockelmann dan sejumlah pakar lain mencoba menelaah dan menelusuri jejak karya al-Farisi, termasuk sebuah karya legendarisnya yang diterbitkan di Haydarabat dengan judul Tankih. Tankih adalah karya al-Farisi yang paling sensasional. Karya ini membahas cara rinci dan tuntas masalah seputar optik yang pernah diajukan Ibnu al-Haytsam. Dalam karyanya tersebut, al-Farisi mengembangkan penelitian al-Haytsam terhadap kamera obskura dan menjelaskan timbulnya pelangi. Saat menjelaskan perihal pelangi, al-Farisi mampu memberikan penjelasan yang valid tentang tata warna pelangi primer dan sekunder. Namun, satu hal yang paling mengesankan dari karyanya itu adalah ia berhasil menjabarkan hasil penelitian ilmiahnya dengan menggunakan teori matematika.
Diilhami sebuah analogi yang dikemukakan oleh Ibnu Sina tentang tetes air hujan di permukaan gelas, al-Farisi meneliti jalur sinar lampu yang melewati permukaan sebuah gelas. Ia berharap bisa menentukan pembiasan sinar matahari melalui titik hujan. Teori al-Farisi tentang pelangi dianggap spektakuler karena mampu mendemonstrasikan beragam rupa kombinasi refraksi dan refleksi cahaya matahari dalam setetes air, yang dikaitkan dengan pelangi primer dan sekunder. Selain Tankih, al-Farisi juga menulis buku lain yang membahas masalah optik, yaitu Kitab al-Basa'ir al-Ilm Manazir. Buku ini merupakan sebuah karya bebas tentang optik.

Selain menguasai ilmu optik, al-Farisi juga mahir matematika. Salah satu karya andalannya di bidang ini adalah Tadhkirat al-Ahbab, yang merupakan manuskrip tentang angka atau bilangan yang bersahabat (friendly numbers). Ia menulis buku ini pada tahun 1337 (737 H) di Baghdad. Asas al-Qawa'id fi Usul al-Fawa'id adalah sebuah risalah matematika karya al-Farisi yang juga cukup terkenal. Di kemudian hari, para ilmuwan fisika dan matematika memuji sejumlah karya al-Farisi sebagai karya ilmiah berkualitas tinggi. Karya-karya tersebut diterjemahkan dalam bahasa Ibrani dan Latin.

Sumber: Buku Biografi Para Ilmuwan Muslim
selengkapnya...

Minggu, 16 September 2012

Biografi Abu Khayr: Dokter Botani Islam

Nama lengkap Abu Khayr adalah Abu al-Khayr al-Isybili asy-Syajjar. Ia berasal dari Seville, Spanyol, dan diperkirakan hidup pada pertengahan abad XII. Semasa hidupnya, Abu Khayr mengabdikan diri untuk meneliti tumbuh-tumbuhan dan menghasilkan karya-karya yang berhubungan dengan botani. Karya-karyanya terkenal di Arab dan Eropa.

Abu Khayr dikenal sebagai seorang dokter botani dan pakar masalah pertanian. Sehubungan dengan itu, ia menulis buku yang membahas masalah-masalah pertanian. Sebagai seorang ahli botani, Abu Khayr mencoba mengklasifikasikan tumbuhan berdasarkan habitat dan proses perkembangbiakannya sehingga dapat diketahui mekanisme tumbuhan tersebut. Ia meneliti beberapa tumbuhan sekaligus dengan cara membiarkan mereka tumbuh dengan beragam cara, seperti pembibitan atau pembenihan, pemotongan tangkai, dan dibiarkan tumbuh alami.

Al-Filaha adalah salah satu karya Abu Khayr. Karya ini masih tersimpan di Bibliotheque, Paris, Perancis. Selain itu, ada pula karya Khayr yang tersimpan di Perpustakaan Masjid Zaitun, Tunisia, dan beberapa perpustakaan swasta di Afrika Utara. Karya-karya Abu Khayr dianggap sebagai buku panduan tentang tumbuhan yang berisi lima hal penting.
Biografi Abu Khayr: Dokter Botani Islam
Pertama, pengetahuan umum tentang dunia botani, seperti waktu hidup satu jenis tumbuhan, pengaruh bulan terhadap pertumbuhannya, waktu yang tepat menghasilkan buah, faktor perusak, hingga ciri-ciri suatu jenis tumbuhan. Kedua, cara penanaman, pelapisan (layering), pembabatan atau pemangkasan, hingga pencangkokan (grafting) yang tepat sesuai jenis tumbuhan. Selain itu, Ketiga, Abu Khayr juga menjelaskan bagaimana cara mengawetkan buah dan sayur sesuai jenis dan aroma tumbuhan tersebut. Keempat, tentang binatang yang bermanfaat dan yang merusak tumbuhan, seperti burung, serangga, binatang pengerat, reptil, dan mamalia. Kelima, tentang tanda-tanda astrologi dan meteorologi yang diperhatikan saat hendak menanam dan memanen.

Selama proses penyusunan buku tersebut, Abu al-Khayr banyak melakukan observasi ke kebun, halaman rumah, hingga hutan-hutan al-Jarafe di asy-Syarafah (sebuah daerah kawasan Seville, Spanyol). Sementara itu, sebagai bahan rujukan, ia menggunakan sejumlah buku penuntun, seperti kitab karangan Abu Hanif ad-Dinawari (an-Nabat), Aristoteles, Anatolius, dan Ibnu Wasyiya (al-Filahah an-Nabatiyyah).

Abu Khayr juga dikenal sebagai seorang dokter yang menyusun kamus obat-obatan. Ia menggolongkan obat-obatan berdasarkan efek samping dan bahaya yang ditimbulkan. Untuk obat yang tergolong keras, Abu Khayr menghimbau agar obat tersebut tidak diperjualbelikan secara bebas, kecuali atas anjuran dokter atau ahli pengobatan.

Sumber: Buku Biografi Para Ilmuwan Muslim
selengkapnya...

Biografi Carolus Linnaeus: Ahli Taksonomi Swedia

Carolus Linnaeus (1707 - 1778) adalah seorang ahli taksonomi dan botani berkebangsaan Swedia. Dia adalah orang yang memperkenalkan cara pemberian nama dan pengklasifikasian makhluk hidup. Linnaeus (nama aslinya Carl Von Linne yang dilatinkan menjadi Carolus Linnaeus) telah menghabiskan masa kecilnya dengan mengumpulkan aneka tumbuhan dan hewan, sebelum ia belajar hingga meraih doktor pada Universitas Uppsala.

Pada tahun 1741, Linnaeus diangkat menjadi profesor di bidang kedokteran dan botani pada universitas yang sama. Ia juga menghabiskan sebagain waktunya untuk belajar ekologi dan penyebaran tumbuhan. Linnaeus telah mempelajari hampir 8.000 spesies tumbuhan dan 4.000 spesies hewan, dengan memberikan nama ilmiah dalam dua kata. Misalnya, ia menamai serigala liar Canis lupus dan serigala yang mirip anjing Canis aureus. Canis adalah nama genus yang dimiliki hewan dan lupus atau aureus merupakan nama spesifik yang menunjukkan hubungan antar anggota.

Klasifikasi modern dimulai pada tahun 1758, yakni ketika C. Linnaeus mempublikasikan bukunya berjudul Systema Naturae, edisi ke-10. Jika dalam edisi sebelumnya Linnaeus menggunakan sistem banyak suku nama (polinomial sistem) maka dalam edisi ke-10 ini ia memperkenalkan sistem dua suku nama.
Biografi Carolus Linnaeus: Ahli Taksonomi Swedia
Menurut Linnaeus, spesies merupakan unit dasar dari klasifikasi. Spesies diartikan sebagai sebuah populasi dari makhluk hidup yang mampu melakukan perkawinan secara alami antar sesamanya (interbreding) dan menghasilkan keturunan yang fertil. Selanjutnya, setiap spesies yang ditemukannya dilengkapi dengan pemberian nama dengan menggunakan bahasa Latin atau dilatinkan. Sistem pemberian nama spesies tersebut dikenal dengan istilah binomial nomenklatur.

Dalam menyusun klasifikasinya, Linnaeus sangat memperhatikan urutan atau tingkatan kelompok makhluk hidup. Ia mengelompokkan hewan dan tumbuhan menurut spesies, genus, famili, ordo, dan kelas. Setiap kelas ditempatkan ke dalam filum atau divisi. Selanjutnya beberapa filum atau divisi ditempatkan lagi pada urutan tertinggi yang disebut kingdom atau kerajaan, atau dunia. Dalam penyusunan klasifikasinya, Linnaeus juga memfokuskan perhatiannya pada sistem alat perkembangbiakan makhluk hidup. Misalnya, pada tumbuhan berdasarkan warna bunga, bentuk bunga, banyak benang sari, dan bentuk putik. Itulah sebabnya sistem klasifikasi yang ia kemukakan disebut juga "sistem klasifikasi seksual".

*) Dari berbagai sumber
selengkapnya...

Sabtu, 15 September 2012

Biografi As-Sahib bin Abbad: Sang Negarawan yang Ahli Sastra

Nama lengkap as-Sahib bin Abbad adalah Abu Qasim at-Taliqani Islami bin Abbad bin al-Abbas. Ia lahir pada bulan September 938 di Taliqan. Ayahnya adalah seorang menteri pada masa Daulah Bani Buwaih (932-1055), yang bermazhab Syiah.

As-Sahib bin Abbad berteman dekat dengan sang pemimpin Buwaih, Muayyid ad-Daulah. Dari pertemanan tersebut, ia mendapat gelar as-Sahib (kawan). As-Sahib bin Abbad adalah salah satu sastrawan terkenal pada masanya. Ia juga mahir ilmu kalam, khususnya mazhab Ahl al-‘Adl wa at-Tauhid.

As-Sahib bin Abbad juga dikenal sebagai menteri pada masa pemerintahan Muayyid ad-Daulah bin Buwaih ad-Dailami (976-983). Ketika sang pemimpin meninggal dan digantikan oleh saudaranya, Fakhr ad-Daulah (983-988), as-Sahib bin Abbad mengajukan permohonan untuk berhenti. Fakhr ad-Daulah menolak permohonan itu sambil berkata: “Sesungguhnya engkau memiliki hak waris dalam kementerian sebagaimana hak kami dalam mewarisi kepemimpinan (kerajaan) sehingga jabatan kita adalah menjaga hak itu.”

As-Sahib bin Abbad adalah seorang menteri yang mahir mengatur administrasi negara. Hal tersebut membuat beberapa raja merasa kagum. Nuh bin Mansur, Raja Khurasan yang menguasai daerah di sekitar Sungai Eufrat, meminta as-Sahib menjadi perdana menteri kerajaannya. Sayangnya, permintaan itu ditolak as-Sahib dengan sopan. As-Sahib beralasan bahwa ia tidak bisa pindah dari kota Rai, kota tempat tinggalnya selama ini karena ia membutuhkan sekitar empat ratus unta untuk membawa semua buku perpustakaannya, barang kebutuhan sehari-hari, dan para pengikutnya.
Biografi As-Sahib bin Abbad: Sang Negarawan yang Ahli Sastra
As-Sahib bin Abbad sangat dihormati oleh para pemimpin dan raja tempatnya mengabdi sebagai perdana menteri. Pada tahun 987-988, as-Sahib bin Abbad memimpin pasukan perang ke daratan Tabaristan. Ia berhasil menguasai wilayah tersebut dan menggabungkannya dalam wilayah negara Bani Buwaih.

Semasa hidupnya, as-Sahib bin Abbad meninggalkan sejumlah warisan di bidang bahasa dan sastra. Salah satunya adalah kitab al-Muhith yang terdiri dari tujuh jilid. Karyanya yang lain adalah al-Kafi, al-A’yad wa Fadhal an-Nayruz, al-Kasyf’an Masawi’ Syi’r al-Mutanabbi, dan al-Iqna’fi al-‘Arusz wa Takhrij al-Qawafi. As-Sahib juga menghasilkan sebuah risalah berjudul Risalah Unwan al-Ma’arif wa Dzikir al-Khalaif. Adapun al-Mukhtar min Rasail al-Wajir Ibnu ‘Abbad adalah buku kumpulan risalah karya as-Sahib.

As-Sahib bin Abbad meninggal dunia pada bulan Maret 995.

Sumber: Biografi Para Ilmuwan Muslim
selengkapnya...

Jumat, 14 September 2012

Biografi Muhammad Iqbal: Pujangga Besar Islam

Muhammad Iqbal adalah tokoh muslim abad XX yang sangat terkenal dan berjasa di berbagai bidang, baik politik, filsafat, sastra, maupun agama. Iqbal adalah pakar ilmu filsafat Barat. Muhammad Iqbal lahir pada tanggal 22 Februari 1873 di Sialkot. Nenek moyangnya berasal dari lembah Khasmir. Sebagai anak seorang sufi, Iqbal dididik secara Islam oleh sang ayah. Saat itu, salah satu kegemarannya adalah membaca dan menghafal al-Quran. Ayahnya pernah berkata: “Jika kamu ingin memahami al-Quran, bacalah seolah kitab itu diturunkan untukmu.” Di kemudian hari, Iqbal selalu menjadikan al-Quran sebagai dasar pijakan dalam berpikir, bertindak, dan berkarya. Selain sang ayah, Iqbal juga mempunyai seorang guru lain, yaitu Maulana Mir Hasan. Di kemudian hari, pengaruh didikan Maulana membuat Iqbal menjadi seorang penyair dengan semangat keislamannya yang tinggi.

Setelah menamatkan pendidikan dasar di tanah kelahirannya, Iqbal melanjutkan sekolahnya di Government College, Lahore (1885). Pada masa itu, kecerdasan Iqbal telah terlihat. Ia adalah satu-satunya murid Sir Thomas Arnold, seorang ahli islamologi terkenal yang mengajar mata kuliah Filsafat Islam di Government School. Pada tahun 1905, atas dorongan Sir Thomas Arnold, Iqbal mempelajari filsafat Barat di London dan Berlin selama tiga tahun. Ia juga mendapat bimbingan dan pengarahan dari Profesor Mac Taggart, seorang pengajar di Universitas Cambridge, London. Selain itu, Iqbal juga sering berdiskusi dengan para pemikir Eropa lain. Beberapa tahun kemudian, Iqbal berhasil meraih gelar Doktor dari Universitas Munich, dengan disertasi berjudul The Development of Metaphysics in Persia yang merupakan karya filsafat pertama Iqbal. Selama tiga tahun berada di Eropa, pemikiran Iqbal mulai berubah. Ia menemukan kenyataan bahwa peradaban Timur dan Barat telah menyatu dalam dirinya. Meskipun demikian, hal tersebut tidak mengubah keyakinan Iqbal sedikit pun. Di kemudian hari, ia membangun sistem filsafatnya sendiri yang berdasarkan al-Quran.

Iqbal kembali ke Lahore setelah sempat mengajar bahasa Arab di Universitas London dan menjadi Ketua Jurusan Filsafat dan Kesusastraan Inggris. Di Lahore, ia menjadi seorang pengacara. Di sela-sela kesibukannya, Iqbal masih sempat menulis sejumlah puisi berbahasa Persia dan Urdu, serta artikel tentang filsafat, ekonomi, politik, dan sastra berbahasa Inggris. Sebagai seorang penulis meskipun telah mengenyam pendidikan Barat, tapi Iqbal mengecam dunia Barat lewat tulisannya.
Biografi Muhammad Iqbal: Pujangga Besar Islam
Konon, idealisme Iqbal terilhami dari tulisan Sir Sayed Ahmad Khan (1817-1898) yang isinya menyarankan umat Islam mempelajari berbagai buku ilmu pengetahuan Barat, meskipun pengarangnya bukan beragama Islam dan isi bukunya menyalahi al-Quran. Iqbal berkata bahwa setiap muslim harus meniru orang-orang Arab zaman dahulu yang tidak takut kehilangan iman mereka karena mempelajari hukum Newton atau menuntut ilmu di Barat. Secara terang-terangan, Iqbal menghargai peradaban Barat dengan cara mengambil hal yang baik dan bermanfaat saja.

Sementara itu, sebagai seorang filosof muslim, Iqbal sering menuangkan gagasan tentang pribadi manusia (ego) yang kemudian menjadi tema pokok sejumlah puisinya. Sejumlah pemikiran Iqbal tentang hal tersebut termuat dalam beberapa kumpulan puisinya, seperti Syikwa (Keluhan), Jawab-I-Syikwa (Jawaban Keluhan), Bang-i Dara (Panggilan Lonceng), Asrar-i (Rahasia Pribadi), dan Rumudzi Bekhudi (Misteri Penyangkalan Diri). Di kemudian hari, beberapa karyanya telah disadur dalam bahasa Indonesia. Sementara itu, beberapa ceramah Iqbal termuat dalam sebuah buku kumpulan ceramah yang berjudul The Reconstruction of Religious Thought in Islam. Buku ini adalah karya filsafatnya yang kedua.

Iqbal menentang keras sifat lamban, lemah, dan malas karena dipandangnya sebagai penghambat kemajuan. Ia juga sangat menentang pengertian takdir yang salah kaprah. Menurut Iqbal, seseorang yang ingin maju harus berjuang dengan gigih, bukan hanya menunggu takdir. Kerja keras adalah kunci kesuksesan.

Dalam dunia politik, Iqbal sempat menjabat sebagai Presiden Liga Muslim. Ia adalah tokoh pencetus Negara Islam Pakistan. Pengaruh Iqbal sedemikian rupa sehingga namanya diabadikan di beberapa lembaga di Jerman, Italia, dan negara lain. Pada tahun 1922, sebuah universitas tertua di Jepang menganugerahkan Sir pada Iqbal. Beberapa waktu kemudian, Iqbal juga mendapat gelar Doctor Anumerst di bidang sastra dari Universitas Tokyo. Gelar ini adalah gelar pertama yang diberikan pihak universitas kepada seorang tokoh yang berprestasi dan berdedikasi di bidang tersebut.

Muhammad Iqbal meninggal dunia pada tanggal 21 April 1923 di Lahore. Ia dimakamkan di dekat pintu gerbang Masjid Shahi di Lahore, Pakistan. Dua tahun setelah kematian Iqbal, sebuah revolusi besar terjadi di Pakistan, yang kemudian memicu terbentuknya Republik Islam Pakistan. Sebagai salah satu pencetusnya, Iqbal tidak sempat menyaksikan kelahiran negara baru tersebut.

Sumber: Buku Biografi Para Ilmuwan Muslim
selengkapnya...

Kamis, 13 September 2012

Biografi Singkat Michael Faraday: Penemu Hukum Faraday

Michael Faraday (1791 – 1867) sejak kecil sudah menyukai sains. Pada usia 13 tahun sambil bekerja di toko buku, ia mulai belajar ensiklopedi dan buku-buku sains. Kontribusi Faraday selanjutnya terhadap sains sangat mengagumkan. Jika saat itu, sudah ada penghargaan Nobel, dia mungkin sudah dapat enam kali.

Dia pertama kali yang menemukan senyawa-senyawa karbon klorida pada tahun 1820 dan benzena pada tahun 1825. Dia sangat terkenal dalam penemuannya di bidang listrik. Sebagai penghargaan dalam bidang kimia, jumlah muatan listrik yang dibawa oleh satu mol elektron, disebut satu faraday.

Faraday pun menemukan hubungan antara jumlah listrik yang digunakan dengan massa zat yang dihasilkan, baik di katode maupun anode pada proses elektrolisis. Dan disebut sebagai Hukum Faraday.

Biografi Singkat Michael Faraday: Penemu Hukum Faraday

Hukum Faraday 1 menyatakan: Massa zat yang dihasilkan sebanding dengan jumlah muatan listrik (Q) yang melewati sel elektrolit tersebut.

Hukum Faraday II menyatakan: Massa zat yang dihasilkan sebanding dengan massa ekuivalensi (w) zat tersebut pada sel elektrolisis.

Jika Hukum Faraday I dan II digabungkan, diperoleh hubungan sebagai berikut: Reaksi reduksi pada katode: Ag+ + e- ---> Ag. Pada bembentukan 1 mol Ag diperoleh jumlah elektron yang berperan e=1. Jumlah listrik yang dialirkan ke dalam sel elektrolisis untuk mendapatkan 1 mol elektron dinamakan 1 Faraday (1 F). Dari hasil percobaan diperoleh bahwa 1 Faraday setara dengan 96.487 coulomb atau sering dibulatkan menjadi 96.500 coulomb.

Selain itu, ia juga dijuluki sebagai "Bapak Listrik". Oleh karena usahanya, listrik menjadi bagian teknologi yang berguna untuk masa yang akan datang.

*Dari berbagai sumber
selengkapnya...

Senin, 10 September 2012

Biografi Singkat William Derham: Peneliti Kecepatan Bunyi

William Derham (26 November 1657 - 5 April 1735) adalah seorang ilmuwan Inggris. Ia adalah orang pertama yang mengetahui cara mengukur kecepatan bunyi ketika berada di Upminister. Pada tahun 1708, ia melakukan percobaan dengan mengukur gelombang langsung yang diterima dari sumber bunyi.

Dari tempat yang cukup tinggi (dari menara sebuah gereja), ia mengamati selang waktu antara terlihatnya api ledakan meriam dan saat bunyi terdengar dari sebuah meriam yang diledakkan pada jarak 19 km dari tempat ia mengamati.

Apabila interval waktu antara dilihatnya api ledakan meriam dengan terdengarnya bunyi adalah t, karena kecepatan cahaya sangat besar, yaitu 300.000 km,s-1 maka selang waktu merambatnya cahaya dari sumber ledakan sampai pada pengamat sangat kecil (boleh dianggap nol atau diabaikan).

Biografi Singkat William Derham: Peneliti Kecepatan Bunyi


Melalui percobaan tersebut, William Derham memperoleh hasil untuk kecepatan bunyi v = 343 ms-1.

*Dari berbagai sumber
selengkapnya...

Minggu, 09 September 2012

Biografi Singkat Thomas Young: Fisikawan Inggris

Thomas Young (13 Juni 1773 - 10 Mei 1829) merupakan ilmuwan dan peneliti asal Inggris. Ia berasal dari keluarga Quaker di Milverton, dan merupakan anak bungsu dari sepuluh bersaudara. Di usia 14 tahun, ia telah menguasai 12 bahasa, yaitu Yunani, Latin, Perancis, Italia, Hebrew, Chaldean, Siria, Samarita, Arab, Persia, Turki, dan Amharic.

Pada tahun 1792, ia belajar medis di London, kemudian pada tahun 1794 pindah ke Edingburg untuk melanjutkan proses belajarnya. Pada tahun 1797, ia melanjutkan studinya di Universitas Emmanuel, Cambridge di bidang Ilmu Fisika dan memperoleh gelar Doktor pada tahun 1796.

Pada tahun 1801, Young melakukan eksperimen yang menunjukkan adanya gejala interferensi pada gelombang. Untuk mendapatkan dua gelombang yang koheren, Thomas Young menggunakan sumber cahaya titik yang di depannya diletakkan penghalang dengan satu celah dan penghalang dua celah. Gelombang yang dihasilkan sumber cahaya sekunder pada celah merupakan cahaya koheren, karena berasal dari satu titik.

Biografi Singkat Thomas Young: Fisikawan Inggris


Garis vertikal menggambarkan arah rambatan gelombang lingkaran. Apabila gelombang yang dihasilkan berupa gelombang cahaya monokromatis, terjadi pola gelap terang sedangkan jika gelombang yang dihasilkan gelombang cahaya polikromatis maka pola interferensi berupa spektrum warna.

Pada tahun 1801 juga ia dinobatkan menjadi profesor "filosofi alami" bidang fisika oleh Royal Institut dan dalam dua tahun ia telah memberikan 91 seminar mengenai fisika dan mempublikasikannya dalam bentuk teori. Pada tahun 1803, ia mengundurkan diri dari jabatannya menjadi profesor.

*Dari berbagai sumber
selengkapnya...

Biografi Ibnu Jazzar: Dokter Muslim Kaum Fakir

Nama lengkap Ibnu Jazzar adalah Abu Ja’far Ahmad bin Ibrahim bin Abi Khalid Ibnu al-Jazzar. Ia dilahirkan di Qayrawan, Tunisia. Ayahnya adalah seorang dokter. Tak heran, di kemudian hari, ia tertarik mengkaji ilmu kedokteran pula. Ibnu Jazzar mendapat pendidikan dasar dari keluarganya. Selanjutnya, ia menempuh pendidikan formal di bawah bimbingan Ishaq bin Sulayman al-Isra’ili, seorang dokter terkenal keturunan Yahudi. Karena kecerdasan dan ketekunannya, Ibnu Jazzar akhirnya berhasil menjadi seorang dokter yang andal.

Ibnu Jazzar terkenal sebagai seorang dokter yang dermawan, tapi sangat disiplin dan cermat. Ia tidak hanya menjadi dokter dari kalangan elit, tapi juga dari kalangan rakyat jelata dan fakir miskin. Saat menghadapi para pasien, ia selalu sabar mendengarkan keluhan mereka, sebelum kemudian mengobati dengan teliti. Pengalaman tersebut kemudian dituliskannya dalam sejumlah buku. Tanpa diduga, buku-buku yang berisi pengalaman hidupnya itu justru membuat namanya terkenal di dalam dan luar negeri. Di antara karya tersebut, salah satunya adalah Kitab Thibb al-Fukara atau Medicine for the Poor (Obat-obatan Untuk Kaum Fakir). Buku ini dianggap sebagai bukti kepedulian Ibnu Jazzar pada kesehatan kaum miskin. Karya ini termasuk salah satu buku yang sangat popular di abad pertengahan. Al-Adwiya al-Mufrada (Cara Pengobatan Sederhana) juga merupakan karya terkenal Ibnu Jazzar. Di kemudian hari, buku-bukunya itu diterjemahkan dalam bahasa Yunani, Latin, dan Ibrani.
Biografi Ibnu Jazzar: Dokter Muslim Kaum Fakir
Zal al-Musafir wa Qut al-Hadir adalah salah satu karya Ibnu Jazzar yang dianggap fenomenal. Karya ini terdiri dari tujuh jilid buku yang berisi tentang pengobatan berbagai jenis penyakit. Sehubungan dengan hal itu, untuk memperkuat pendapatnya, Ibnu Jazzar mengutip pendapat para dokter ternama pendahulunya. Pada awal abad XI, buku ini diterjemahkan dalam bahasa Yunani, sebelum kemudian menyebar luas hingga ke negara lain. Tak lama kemudian, Zal al-Musafir wa Qut al-Hadir diterjemahkan pula dalam bahasa Ibrani. Pada tahun 1124, buku karya Ibnu Jazzar ini akhirnya diterjemahkan dalam bahasa Latin.

Sejumlah ahli berpendapat kalau keberadaan Zad al-Musafir wa Qut al-Hadir memberikan pengaruh yang kuat bagi perkembangan ilmu kedokteran di Eropa Tengah. Satu jilid buku ini, yaitu tentang demam dan penyakit seksual, diterjemahkan dalam bahasa Inggris dengan judul Arts of Medicine. Buku terjemahan inin kemudian menjadi buku teks terkenal yang menjadi bahan rujukan para mahasiswa ilmu kedokteran di Universitas Oxford dan sejumlah universitas di Bologna, Italia, dan Perancis.

Semasa hidupnya, Ibnu Jazzar menghasilkan sekitar dua puluh judul buku kedokteran.

Sumber: Buku Biografi Para Ilmuwan Muslim
selengkapnya...

Kamis, 06 September 2012

Biografi Tsabit bin Qurrah: Ahli Geometri Islam Terbesar

Tsabit bin Qurrah lahir pada tahun 833 di Haran, Mesopotamia. Ia dikenal sebagai ahli geometri terbesar pada masa itu. Tsabit merupakan salah satu penerus karya al-Khawarizmi. Beberapa karyanya diterjemahkan dalam bahasa Arab dan Latin, khususnya karya tentang Kerucut Apollonius. Tsabit juga pernah menerjemahkan sejumlah karya ilmuwan Yunani, seperti Euclides, Archimedes, dan Ptolomeus.

Karya orisinal Archimedes yang diterjemahkannya berupa manuskrip berbahasa Arab, yang ditemukan di Kairo. Setelah diterjemahkan, karya tersebut kemudian diterbitkan di Eropa. Pada tahun 1929, karya tersebut diterjemahkan lagi dalam bahasa Jerman. Adapun karya Euclides yang diterjemahkannya berjudul On the Promises of Euclid; on the Propositions of Euclid dan sebuah buku tentang sejumlah dalil dan pertanyaan yang muncul jika dua buah garis lurus dipotong oleh garis ketiga. Hal tersebut merupakan salah satu bukti dari pernyataan Euclides yang terkenal di dunia ilmu pengetahuan. Selain itu, Tsabit juga pernah menerjemahkan sebuah buku geometri yang berjudul Introduction to the Book of Euclid.

Buku Elements karya Euclides merupakan sebuah titik awal dalam kajian ilmu geometri. Seperti yang dilakukan para ilmuwan muslim lain, Tsabit bin Qurrah pun tidak mau ketinggalan mengembangkan dalil baru tersebut. Ia mulai mempelajari dan mendalami masalah bilangan irasional. Dengan metode geometri, ia ternyata mampu memecahkan soal khusus persamaan pangkat tiga. Sejumlah persamaan geometri yang dikembangkan Tsabit bin Qurrah mendapat perhatian dari sejumlah ilmuwan muslim, terutama para ahli matematika. Salah satu ilmuwan tersebut adalah Abu Ja’far al-Khazin, seorang ahli yang sanggup menyelesaikan beberapa soal perhitungan dengan menggunakan bagian dari kerucut. Para ahli matematika menganggap penyelesaian yang dibuaat Tsabit bin Qurrah sangat kreatif. Tentu saja, hal tersebut disebabkan Tsabit bin Qurrah sangat menguasai semua buku karya ilmuwan asing yang pernah diterjemahkannya.

Biografi Tsabit bin Qurrah: Ahli Geometri Islam Terbesar
Tsabit bin Qurrah juga pernah menulis sejumlah persamaan pangkat dua (kuadrat), persamaan pangkat tiga (kubik), dan beberapa pendalaman rumus untuk mengantisipasi perkembangan kalkulus integral. Selain itu, ia melakukan sejumlah kajian mengenai parabola, sebelum kemudian mengembangkannya. Dalam bukunya yang berjudul Quadrature of Parabola, ia menggunakan bentuk hitungan integral untuk mengetahui sebuah bidang dari parabola.

Selain mahir matematika, Tsabit juga ahli astronomi. Ia pernah bekerja di Pusat Penelitian Astronomi yang didirikan oleh Khalifah al-Ma’mun di Baghdad. Selama bekerja di sana, Tsabit meneliti gerakan sejumlah bintang yang disebut Hizzatul I’tidalain, yang ternyata mempengaruhi terjadinya gelombang bumi setiap 26 tahun sekali. Sejak 5000 tahun yang lalu, para ahli perbintangan Mesir telah menemukan sebuah bintang yang bergerak mendekati Kutub Utara, yang disebut Alfa al-Tanin. Pada tahun 2100 nanti, bintang tersebut akan menjauhi Kutub Utara. Pada tahun 14000, akan muncul kembali sebuah bintang utara yang bernama an-Nasr. Bintang tersebut adalah bintang utara yang paling terang.

Tsabit juga memimpin sebuah penelitian pada masa pemerintahan Khalifah al-Rasyid. Tsabit mengukur luas bumi dengan menggunakan garis bujur dan garis lintang secara teliti. Penemuan Tsabit tersebut memberikan inspirasi pada para pelaut, seperti Colombus, untuk melakukan pelayaran keliling dunia yang dimulai dari Laut Atlantik. Berkat penemuan tersebut, para pelaut bisa memastikan kalau mereka tidak akan tersesat dan kembali ke tempat semula, yaitu Laut Atlantik. Penemuan penting Tsabit yang lain adalah jam matahari. Jam ini menggunakan sinar matahari untuk mengetahui peredaran waktu dan menentukan waktu shalat. Tsabit juga membuat kalender tahunan berdasarkan sistem matahari.

Tsabit bin Qurrah meninggal dunia pada tahun 911 di Baghdad.

Sumber: Buku Biografi Para Ilmuwan Muslim
selengkapnya...

Senin, 03 September 2012

Biografi Ibnu Said Al-Maghribi: Ahli Sejarah dan Penyair Islam dari Andalusia

Nama lengkap Ibnu Said al-Maghribi adalah Abu al-Hasan Ali bin Musa bin Muhammad bin Abdul Malik bin Said al-Maghribi. Ia adalah seorang ahli sejarah dan geografi. Selain itu, ia juga dikenal sebagai penyair Andalusia. Ibnu Said lahir pada tahun 1231 (610 H) di sebuah perkampungan dekat kota Granada. Keluarganya adalah keturunan Ammar bin Yassir.

Ibnu Said menghabiskan masa mudanya di Spanyol. Di sana, ia menuntut ilmu dan melakukan aktifitas intelektual lainnya. Pada tahun 1241 (639 H), Ibnu Said meninggalkan Spanyol untuk melaksanakan ibadah haji bersama ayahnya, yang kemudian meninggal dalam perjalanan. Tanpa diduga, begitu tiba di Kairo, Ibnu Said mendapat sambutan hangat dari masyarakat yang ternyata telah mengenal salah satu karyanya yang berjudul Kitab al-Maghrib fi Hula al-Maghrib. Di kota itulah namanya mulai terkenal untuk pertama kali.

Kitab al-Maghrib fi Hula al-Maghrib adalah sebuah karya yang berkali-kali direvisi oleh penulisnya. Pada tahun 1249 (648 H), al-Maghribi mulai melakukan perjalanan panjang dengan tujuan untuk mengumpulkan informasi dan bahan sebanyak-banyaknya untuk menulis buku. Ia meninggalkan Mesir menuju Irak, Suriah, dan sejumlah negara lain. Semula, buku tersebut disusun ayahnya, tapi kemudian ditinggalkan tanpa pernah diselesaikan. Kitab al-Maghrib fi Hula al-Maghrib tidak pernah muncul dalam bentuk asli yang terjilid utuh, tapi dalam bentuk manuskrip yang dijumpai di Kairo.
Biografi Ibnu Said Al-Maghribi: Ahli Sejarah dan Penyair Islam dari Andalusia
Sebagai seorang penyair, Ibnu Said menulis beragam jenis syair, baik yang bertema klise, ekspresi nostalgia terhadap kampung halaman, maupun ungkapan perasaannya. Namun, karya-karya Ibnu Said yang banyak ditemukan dan diterbitkan kembali di kemudian hari adalah karya yang berbentuk tulisan ilmiah dan populer.

Riwayat al-Mubarrizin wa Ghayat al-Mumayyizin adalah salah satu karya Ibnu Said yang telah diterjemahkan dalam bahasa Spanyol oleh E. Garcia Gomez di Madrid (1942) dan dalam bahasa Inggris oleh A. J. Arberry di Cambridge. Karya Ibnu Said lainnya adalah Unwan al-Murkisat wa al-Mutribat yang terbit di Kairo pada tahun 1286. Karya ini telah diedit dan diterjemahkan dalam bahasa Perancis oleh A. Mahdad (1949). Sementara itu, al-Ghusun al-Yani’a fi Mahasin Syu’ara al-Mi’a as-Sabi’a dan Ikhtisar al-Kidh al-Mualla fi at-Tarikh al-Muhalla adalah dua karya Ibnu Said yang diedit kembali oleh Ibrahim Ibyari (Kairo, 1955 dan 1959). Pada tahun 1953 dan 1958, karyanya yang berjudul Mukhtasar Jughrafiyah juga diedit dan sebagian diterjemahkan dalam bahasa Spanyol oleh J. Vernet G. Potrian, yang juga menerjemahkan karya yang sama tapi dalam bahasa Perancis. Sebagian besar karya Ibnu Said berisi biografi para sarjana terkenal yang hidup pada masa itu dan cerita keluarga si penulis serta perjalanannya ke Mekkah.

Ibnu Said meninggal dunia pada tahun 1286 (685 H).

Sumber: Buku Biografi Para Ilmuwan Muslim
selengkapnya...

Sabtu, 01 September 2012

Biografi Ibnu Rusyd: Perintis Ilmu Jaringan Tubuh

Ibnu Rusyd adalah seorang ilmuwan muslim yang cerdas dan menguasai banyak bidang ilmu, seperti al-Quran, fisika, kedokteran, biologi, filsafat, dan astronomi. Ibnu Rusyd lahir pada tahun 1198 di Kordoba, Spanyol. Di Barat, ia dikenal dengan nama Averroes. Ayah Ibnu Rusyd adalah seorang ahli hukum yang cukup berpengaruh di Kordoba. Sementara itu, banyak saudaranya menduduki posisi penting di pemerintahan. Latar belakang keluarganya itulah yang sangat mempengaruhi proses pembentukan tingkat intelektualitas Ibnu Rusyd di kemudian hari. Ibnu Rusyd adalah seorang tokoh perintis ilmu jaringan tubuh (histology). Ia pun berjasa dalam bidang penelitian pembuluh darah dan penyakit cacar.

Abad XII dan beberapa abad sebelumnya adalah zaman keemasan bagi perkembangan ilmu pengetahuan di dunia Islam. Saat itu, Dinasti Abbasiyah sedang berkuasa, dengan pusat pemerintahan di Semenanjung Andalusia (Spanyol). Para penguasa muslim pada masa itu sangat mendukung perkembangan ilmu pengetahuan. Mereka sering meminta para ilmuwan untuk menggali kembali warisan intelektual Yunani yang masih tersisa. Dengan begitu, nama-nama ilmuwan beserta Yunani beserta karyanya, seperti Aristoteles, Plato, Phytagoras, dan Euclides, masih tetap terpelihara hingga sekarang.

Ibnu Rusyd dapat digolongkan sebagai seorang ilmuwan yang komplit. Selain sebagai seorang ahli filsafat, ia juga dikenal pakar di bidang kedokteran, sastra, logika, ilmu pasti, dan ilmu agama. Sehubungan dengan itu, ia sangat menguasai ilmu tafsir al-Quran dan hadis, juga ilmu hukum dan fikih. Disebabkan kecerdasannya itulah, ia kemudian diangkat menjadi Hakim Agung Kordoba, sebuah jabatan yang pernah dipegang kakeknya pada masa pemerintahan Dinasti al-Murabitun di Afrika Utara. Ibnu Rusyd menjadi hakim agung selama masa pemerintahan Khalifah Abu Ya’kub Yusuf hingga anaknya, Khalifah Abu Yusuf.
Biografi Ibnu Rusyd: Perintis Ilmu Jaringan Tubuh
Di sela-sela kesibukannya sebagai seorang dokter dan hakim agung, Ibnu Rusyd menyempatkan diri menulis. Ia menghasilkan lebih dari dua puluh buku kedokteran. Salah satunya adalah al-Kulliyyat fi al-Thibb, yang kemudian diterjemahkan dalam bahasa Latin. Buku yang merupakan ikhtisar kedokteran yang terlengkap pada zamannya ini diterbitkan di Padua pada tahun 1255. Sementara itu, salinannya dalam versi bahasa Inggris dikenal dengan judul General Rules of Medicine. Salinan tersebut sempat dicetak ulang sebanyak beberapa kali di Eropa. Para penulis sejarah mengungkapkan kedalaman pemahaman Ibnu Rusyd dalam bidang kedokteran dengan berkata, “Fatwanya dalam ilmu kedokteran dikagumi sebagaimana fatwanya dalam fikih. Semua itu disebabkan kedalaman filsafat dan ilmu kalamnya.”

Ibnu Rusyd juga seorang ahli filsafat yang cerdas. Pada masa itu, buku-buku Aristoteles yang diterbitkan masih sangat sedikit dan sulit dipahami. Menyadari hal itu, Ibnu Rusyd tergerak untuk mengoreksi buku terjemahan karya Aristoteles tersebut bahkan melengkapinya. Ibnu Rusyd juga menerjemahkan dan melengkapi sejumlah karya pemikir Yunani lain, seperti Plato yang mempunyai pengaruh selama berabad-abad.

Pada tahun 1169-1195, Ibnu Rusyd menulis sejumlah komentar terhadap karya-karya Aristoteles, seperti De Organon, De Anima, Phiysica, Metaphisica, De Partibus Animalia, Parna Naturalisi, Metodologica, Rhetorica, dan Nichomachean Ethick. Dengan kecerdasannya, komentar Ibnu Rusyd itu seolah menghadirkan kembali pemikiran Aristoteles secara lengkap. Di sinilah terlihat kemampuan Ibnu Rusyd yang luar biasa dalam melakukan sebuah pengamatan. Di kemudian hari, komentar Ibnu Rusyd tersebut sangat berpengaruh terhadap pembentukan tradisi intelektual kaum Yahudi dan Nasrani. Hal itulah yang kemudian membuka jalan bagi Ibnu Rusyd mengunjungi Eropa untuk mempelajari warisan Aristoteles dan filsafat Yunani.

Ibnu Rusyd juga dikenal sebagai pengkritik Ibnu Sina yang paling bersemangat. Meskipun begitu, ia tetap menghormati karya para pendahulunya. Ia juga tertarik pada gagasan al-Farabi tentang logika. Hal itu selalu memberinya inspirasi untuk berkarya. Ibnu Rusyd adalah seorang filosof yang telah berjasa mengintegrasikan Islam dengan tradisi pemikiran Yunani.

Di bidang ilmu agama, Ibnu Rusyd menghasilkan sejumlah karya, seperti Tahafut at-tahafut, sebuah kitab yang menjawab serangan Abu Hamid al-Ghazali terhadap para filosof terdahulu. Sebagai seorang ahli ilmu agama dan filsafat, Ibnu Rusyd dianggap cukup berhasil mempertemukan hikmah (filsafat) dengan syariat (agama dan wahyu).

Semasa hidupnya, Ibnu Rusyd menghasilkan sekitar 78 karya, yang semuanya ditulis dalam bahasa Arab. Kini, sejumlah karyanya tersimpan rapi di perpustakaan Escurial, Madrid, Spanyol. Tidak banyak yang mengetahui kalau Ibnu Rusyd pernah hidup dalam pembuangan. Ia pernah dibuang di Lecena, Spanyol, karena dianggap murtad dan menghina kepala negara. Ia juga pernah dibuang ke Maroko karena difitnah seseorang.

Ibnu Rusyd wafat pada tahun 1198 (595 H) di kota Marakis, Maroko. Jenazahnya kemudian dibawa ke Andalusia dan dimakamkan di sana.

Sumber: Buku Biografi Para Ilmuwan Muslim
selengkapnya...

Copyright © 2013 Kumpulan Biografi: September 2012 | Blogger Template for Bertuah | Design by Ais Bertuah

Welcome to CB Network

Contoh Login Form Blogspot

Ini demo atau contoh Kotak Login dan Register Form. Login Form di samping ini hanya contoh dan tidak dapat digunakan layaknya Login Form FB karena blog ini terbuka untuk umum tanpa perlu mendaftar menjadi Member

Tutorial Blog

Untuk membuatnya silakan Pencet Sini

Member Login

Lost your password?

Not a member yet? Sign Up!